Senin, 07 Maret 2016

Long Distance Relationship part 2

          Setelah lama perjalanan, akhirnya aku sampai juga, untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki di negri sakura, disana terlihat banyak orang yang membawa papan. Pandanganku terus menjelajahi arena tersebut, mencari namaku yang dipangpang. Setelah beberapa menit. Akhirnya aku menemukan juga, disana papan bertuliskan MANDA ANGGRAENI FROM INDONESIA tertulis tebal memakai spidol hitam.
aku segera menghampiri orang yang memegang papan tersebut.
“Konnichiwa..(selamat siang)” sapaku ke lelaki berprawakan kurus itu, ia memakai kaos biru dongker dan celana jeans, dengan topi hitam yang ia kenakan. Terlihat keren memang. Lelaki itu menoleh kepadaku, ia terlihat takjub.
“gome ne.. watashi no namae wa Manda Anggraeni desu, Indonesian ni sunde imasu” (maaf, nama saya manda anggraeni dari Indonesia) kataku sambil menundukan kepala. Namun lelaki itu masih mematung, ia terlihat bengong. aku sedikit heran, kenapa dia bengong begitu? Tanyaku dalam hati.
“bener kamu Manda Anggraeni dari Indonesia?” tanya dia
“Dia bisa berbahasa indonesia? syukurlah” aku sedikit lega
“iya..” jawabku
“oh,, ini toh yang namanya Manda” kata dia tersenyum
Aku cuma bales tersenyum
“kamu bisa bahasa indonesia?” tanyaku
“iya.. tenang aku asli indonesia koq”
“begitu ya..” aku nyengir. Karena aku gak perlu susah-susah pake bahasa jepang, toh kaka ini juga kan mengerti bahasa Indonesia.
“nama ku Ripa Killua, aku utusan sensei Vera untuk menjemputmu di bandara, ini kartu nama ku” lelaki itu menyodorkan tanda pengenalnya.
Aku mengambil kartu itu dan membacanya.
“khawatir kamu tidak memercayaiku” lanjutnya.
“ aku percaya koq” ucapku. Lelaki itu tersenyum. Wah.. benar-benar hansamu ne(tampan)..
“dozo yoroshiku”(senang berkenalan denganmu) ucapku lembut.
“dozo(saya juga).. ayo ikut aku. Kita akan segera menuju apartemen keluargaku, kamu akan tinggal disana, tante dan om ku yang akan mengurus semua urusanmu dengan japan foundation”
“begitu ya? Aku senang mendengarnya” Kataku
“kamu hebat!” ucap lelaki itu
“hebat? Kenapa bilang begitu?” tanyaku jelas heran sambil terus  berjalan mengikutinya.
“iya.. kamu hebat bisa jadi siswa untuk pertukaran pelajar ke negri ini” dia menjelaskan
“oh.. biasa saja.” Kataku pelan

Kami segera melaju menuju apartemen menggunakan mobil yang ka Ripa sendiri yang mengemudinya. Diperjalanan, pandangan ini tak henti-henti menengok ke jendela. Benar-benar keren dan indah, segera aku memotretnya dengan camera SLR yang aku bawa.

“kamu suka pemandangan ini?” tanya lelaki itu
“suka banget ka..” jawabku sambil terus memotret.
“dulu juga aku begitu” kata dia
Aku tersenyum.
“oya.. nama akhir kaka unik” kata ku sambil melihat wajahnya
“begitu kah? Bisa saja kamu”
“aku serius..”
“fikiranmu saja”
aku mengangkat bahu “oya.. Kaka sekolah dimana?”
“universitas tokyo”
“serius? Wah.. hebat!” kataku takjub
“SMA disini juga?” tanyaku lagi
“engga.. di indonesia. Dapet beasiswa kesini”
“o yah? Waw.. kaka bener-bener hebat deh” aku bener-bener takjub
“engga.. biasa saja” lagi lagi dia berkata seperti itu, bener-bener lelaki yang rendah hati.

XXXXX
Mobil ini berhenti disebuah gedung yang menjulang tinggi, aku langsung turun, dan pastinya tanganku segera memotret pemandangan yang ada di depan gedung itu, taman yang dihiasi bunga sakura yang mekar, kebetulan saat ini sedang musim semi. Walaupun 3 hari terakhir.
Ka Ripa hanya menggeleng-geleng tersenyum, ia menghampiriku yang sedari tadi memotret.
“saat pagi hari tamannya lebih indah”
“benar kah? Aku gak sabar untuk menunggu esok pagi”
“yaudah.. masuk yuk. kamu kan perlu istirahat setelah perjalanan yang begitu panjang” kata ka Ripa pelan
aku jelas tertegun, padahal baru saja aku dan dia bertemu tapi kenapa sikap dia sehangat ini? apa dia udah tau banyak tentang aku? Sebenarnya dia itu siapa? Apa ada hubungan darah dengan sensei vera? Atau? Ah.. biar aku tanyain nanti.

“sini aku bawain kopernya” pinta ka Ripa
“hm.. gak usah ka biar aku aja. Makasih” aku menolaknya karena aku nggak mau ngerepotin dia.
“udah gapapa.. apartemennya ada di lantai dua lho.. sini” ka Ripa mengambil koper dari tanganku. Ya sepertinya dia tau kondisi aku yang lagi cape. aku segera mengekor mengikuti ka Ripa yang telah jauh didepan.
Akhirnya aku sampai disebuah apartemen, ka ripa segera membuka pintunya.
“masuk Manda...” kata dia
“hm.. iya”
Apartemen ini terlihat rapi dan bersih, sepertinya tak banyak orang yang menghuni apartemen ini, terlihat dari dekorasi dan tatanannya yang teratur.
“koq sepi ya ka?” tanyaku
“tante sama om jam segini belum pulang, tante Bisky masih di japan foundation. Karena ia bekerja disana, sedangkan om Leorio ia seorang dokter” ka Ripa menjelaskan.
“oh.. begitu..” aku manggut-manggut
“bentar ya Manda.. aku ambilin minum dulu”
aku mengangguk lagi
Ka ripa datang dengan sebuah juice alvocado yang ia buat, ia segera menyuguhkan ke meja yang tak jauh dari tempatku duduk.
“diminum manda..” ucap ka Ripa
“iya..” aku masih duduk di sofa itu, wajahku terlihat sedikit bingung.
Sedangkan Ka ripa duduk disebelahku. Ia mengeluarkan sebuah ponsel. aku merasa sedikit risih, bagaimana tidak aku duduk bersebelahan dengan seorang lelaki yang baru aja aku kenal, didalam ruangan tertutup gini lagi. Aduh aku mulai cemas
“moshi moshi..(hallo) tante, manda udah datang nih, dia sekarang udah di apartemen sama Ripa”
aku tak memperhatikan percakapan ka ripa ditelpon, aku masih sibuk mengira-ngira apa hubungan dia dengan sensei?
Tak lama ka Ripa memberikan ponselnya.
“nih.. tante Bisky mau bicara”
aku melongo.
“hei.. ini tante bisky mau bicara kepadamu”
“Oh.. iya” aku mengambil ponsel itu
“moshi-moshi(hallo)” kataku sambil melirik ka ripa yang sedang mencuil stick dimeja.
“iya. o genki desuka manda-san(Gimana kabar kamu?)” terdengar suara wanita disebrang sana.
“genki desu (baik).. “ jawabku pelan.
“hai.. manda-san. Hajimemashite. Watashi no namae wa bisky desu(perkenalkan, nama saya bisky).” Terdengar pasih suara perempuan itu menggunakan bahasa jepang.
“oh.. dozo yoroshiku(senang berkenalan denganmu)” aku sedikit gugup.
“dozo.. kamu jangan khawatir, saya tantenya Ripa sekaligus panitia di japan foundation, dan kebetulan saya yang akan mengurus semua keperluanmu disini,  karena saya adalah sensei pembimbingmu”
“benar kah? Arigato ne(terimakasih)” senyumku berkembang
“do itteshimashite(sama-sama) Watashi no go ji ni uchi e kimasu(saya akan pulang kerumah jam 5)”
“hai.. Daijoubu(iya. Tidak apa-apa)”
“iya.. anata wa yasumimasu ne(kamu istirahata ya) Ripa akan menunjukan kamar untuk kamu”
“hai sensei bisky.. wakarimasu(iya. Saya mengerti)”
“hai.. ima nani o shimasuka manda-san?(sekarang Kamu sedang apa)”
“watashi no jusu o nomimasu.(saya sedang minum juice) Hehe”
“oh begitu.. ya udah, sensei lanjut kerja dulu ya. Sayonara(sampai bertemu)”
“sayonara sensei”
aku langsung menyerahkan ponsel ke ka Ripa yang masih lahap memakan stick.
“gimana? Sekarang kamu udah percaya kan?”
aku mengangguk senang
“yaudah, saya antar kekamar kamu ya”
“iya..”
aku mengikuti ka Ripa menaiki anak tangga, dan ka ripa berenti disebuah pintu berwarna silver bergerat.
“ini kamar kamu..”
“oh.. iya ka.”
“yaudah.. kamu istirahat dulu, kalo ada apa-apa saya di lantai bawah.”
“iya...”

aku langsung masuk kamar, ruangan ini cukup besar, luasnya 2 kali dari kamarku. Background dikamar ini digambarkan bunga sakura yang begitu mekar, terasa sejuk, seperti di surga. Disana terdapat satu set tempat tidur, satu almari besar, satu set meja belajar beserta lampu diatasnya, dan sebuah sofa dekat jendela dengan televisi yang menempel di dinding. Ada bathroom juga.
aku segera mendekati jendela, tirai warna merah muda setia menemani jendela itu. aku takjub melihat  pemandangan dibawah sana, kota tokyo ini begitu indah. Ah.. terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa menghirup udara di negri ini.
Setelah merapikan beberapa pakaianku dialmari. aku langsung mandi, mengganti pakaian santai dan merebahkan tubuh ini ke atas kasur berseprai putih bergelombang.
aku segera mengambil tablet, rupanya ada pesan masuk.
Pesan dari mamah
“manda sayang.. kamu udah sampe belum? Kamu baik-baik aja kan? Gimana disana? Kamu sudah ketemu guru pembimbing kamu?”
 aku terseyum, ah.. mamahku, emang mamah nomor satu di dunia. Tak lama aku membalas pesan mamah.
“aku udah sampai mah, baru aja. Aku juga udah tahu dengan guru pembimbing aku. Namanya Sensei Bisky. Tapi aku belum ketemu, beliau masih di japan foundation. Sekarang aku di apartemen yang bakal menjadi tempat tinggalku selama 10 hari kedepan. Mamah do’a in aku ya, aku sayang mamah”

Saat aku sukses mengirim pesan kemamah, ternyata ada pesan masuk bersamaan.
Dari sensei Vera.
“Manda-san.. sekarang kamu udah tahu kan siapa sensei pembimbing kamu disana? tadi sensei Bisky udah hubungi saya. sekarang kamu lagi di apartemen ya sama Ripa? Jangan khawatir.. Ripa orangnya baik. Dia keponakan sensei Bisky, asli indo juga koq. Baik-baik ya  disana. Ikutin semua arahan dari sensei Bisky. Karena dia udah bersusah payah mempertahankan kamu sebagai siswa pembimbingnya.”

“iya.. oh ya, emang sebelumnya sensei bisky udah tau manda?”
Balas ku.

“Dia punya saudara di Indonesia, dia juga bisa berbahasa kita, makanya dia kekeh mau jadi pembimbing kamu. Beliau sahabat sensei”
Tak lama sensei balik balas

“benarkah? oh begitu ya.. oke deh sensei. Nanti manda kabaran sensei lagi kalo ada apa-apa. Sayonara”

“syukur kalo emang kamu udah tau guru pembimbingnya. Mamah sama papah lega dengernya. Inget ya sayang.. jangan macem-macem. Kalo Kemana-mana bawa tuh smartphone kamu. Mamah khawatir. Jangan lupa istirahat yang cukup juga. Doa mamah selalu menyertaimu.”
Balasan dari mamah. aku tersenyum bahagia. Dan akupun memutuskan untuk tidur.

XXXXX
Setelah lama tertidur, aku bangun dengan tubuh yang kembali fresh.
Saat aku mulai membuka mata ini entah kenapa hati ini kembali takjub karena menyadari aku udah di negri impianku ditambah dekorasi kamar yang ditaburi dengan bunga sakura. Oh indah sekali..
Waktu sudah menunjukan pukul 3 lewat. Dengan langkah gontai aku menuju lantai bawah, menuruni anak tangga yang lumayan banyak.
“ka Ripa?” panggilku sambil celengak celinguk nyari sosok pria itu.
“kaka..” aku terus memanggil. Aduh.. kemana ya ka Ripa..
aku duduk di sofa, tak lama ka Ripa datang menuruni anak tangga. Ia tersenyum jail kepadaku.
“aduh.. maaf ya Manda. Tadi saya abis ngerjain tugas dulu”
“gapapa.. koq kaka di lantai atas? Katanya kalo ada apa-apa kaka dilantai bawah?” tanyaku sedikit heran.
“hm.. kirain kamu istirahatnya ga selama ini”
“hehe.. maaf ka” aku nyengir
“ga apa-apa. Saya ngerti koq. makanya tadi saya putusin buat ngerjain tugas dulu dikamar.”
“kamar kaka dilantai atas juga?” tanyaku
“iya.. disebelah kamar kamu”
What? Disebelah kamar aku? Duh,, apa gak salah? Desahku
“gimana? Udah enakan?” tanya Ka Ripa
“iya.. “
“mau kaka anter ke taman ga? Supaya gak bosen”
“boleh,, tapi bentar ya ka. Aku ambil kamera aku dulu”
aku segera berlali menaiki anak tangga dan mengambil kamera SLR.
“ayo ka..” kataku setelah kembali dengan cepat

aku dan ka Ripa keluar dari apartemen ini dan menyusuri trotoar jalan, menyebrang dan akhirnya sampai ke taman ini. tentunya aku langsung memotret bunga sakura itu beberapa jipratan.
“bagus ya ka” ucap aku
“iya..”
“kaka mau di fhoto ga?” tanyaku sambil becanda
“hm.. boleh. Udah lama juga gak difhoto” kata dia
“terlalu sibuk ngampus yaa?” tanyku jail
“hehe.. ga tau nih, yang jelas males aja fhoto-fhoto”
“emang hobby kaka apa?”
“my hobby? Gak ada hobby khusus sih. Biasa-biasa aja”
“berapa jam waktu belajar kaka dalam sehari?”
“10 jam..”
“berarti kaka hobbynya belajar.”
“ah,, pertanyaan menyelidik tuh”
“hehe.. lagian ditanya hobby aja, ga ada.. buktinya kaka belajar 10 jam dalam sehari”
“ tapi itu bukan hobby my priences..  that all kewajiban. You know kewajiban? Kaya sholat. Wajib dikerjakan.”
What? My priences.. duh.. tadi dia kelepasan apa sengaja ya? Atau apa dia udah biasa bilang seperti itu ke siapa aja. Duh.. ka Ripa.. koq aku jadi degdegan gini.
“oh begitu.. yaudah aku fhoto sekarang ya..”
aku nyengir. Semoga aja yang dibilang ka Ripa barusan itu real dari hatinya, hhe Duh.. sebentar lagi SLR aku bakal ngesave pria berwajah tampan nih, hehe. Walaupun ia asli indo tapi wajahnya kayak jepang. Kulit putih, sipit, manis lagi.. hehe
“coba saya lihat hasilnya?” pinta Ka Ripa mendekati ku
aku memperlihatkan hasil jepretan aku barusan.
“sekarang kamu lagi ya.. sini saya fhotoin”
“hah? Tapi ka?”
“udah gapapa.. sini”
“eh.. tappii..”
“cepet keluarin gaya kamu..”
aku terpakasa berpose,, seneng banget bisa difhoto dinegri ini, dibawah pohon bunga sakura dan ka ripa lagi yang fhotoin aku
“gimana ka?” aku langsung menghampiri ka Ripa. Namun saat aku berlari ingin mendekatinya, tiba-tiba aku tersandung. Dan tiba-tiba ka Ripa Refleks menangkap aku. Kini aku berada dipelukannya. Wajahku ada dibawah wajah ka Ripa. Dia memandang wajahku serius, seperti pandangan Taufan dulu saat aku didanau. aku Cuma bisa memandangnya balik dengan wajah penuh kebingungan.
“hm.. ka?” aku membuyarkan pandangannya ka ripa
“oh.. maaf manda” ucapnya kikuk.
“gapapa.. maaf juga ya ka. Aku gak sengaja” kataku gugup
“iya.. kita pulang yuk” ajak ka ripa
“ayo..” aku mengekor dengan wajah merah merona

XXXXX

Setelah mandi sore dengan shawer hangat, aku browsing diruang tengah menghadap jendela. Melihat info japan foundation, dan yang terutama melihat biodata sensei Bisky.
Tak lama ka Ripa datang dengan teh hangat yang ia buatkan buat aku.
“manda.. ini saya buatin teh”
“serius? Aduh.. kaka gak usah repot-repot. Biar aku aja yang buat sendiri”
“gpp.. kamu kan tamu disini.. wajar koq”
“hm.. makasih ka.” aku menerima cangkir teh hangat itu
“sebentar lagi tante bisky akan datang, dia udah dijalan.”
“o.. yah?” tanyaku
Ka ripa mengangguk.

Ting nong..
Suara bel berbunyi
“nah.. itu dia tante bisky dan om leorio”
aku tersenyum ragu, aduh.. moga aja aku ga gugup didepan sensei bisky nanti.
“hai..manda-san?” kata sensei bisky
aku mengangguk.
“gimna Manda? Kamu udah istirahat?” tanya sensei Bisky
“udah sensei.” Ucapku pelan
“kenalin ini suami sensei, Leorio-san.” Katanya
“hai.. watashi wa Manda desu” kata aku sambil mengangguk sopan
“iya.. kamu siswanya sensei Vera?”
“iya..”
“sebelumnya kamu pernah bermimpi bisa ke negri ini?” tanya om Leorio
“hmm.. sering.. om leorio. Bisa dibilang negri jepang ini adalah negri impianku”
“hebat dong.. bisa ke capai”
aku mengangguk senang.
“yaudah.. sensei mau istirahat dulu. Besok pagi kita bicarain lagi yaa manda..” kata sensei Bisky.
“iya sensei..”
Ka Ripa yang sedari tadi asyik memainkan tabnya, kini ia menghampiriku.
“Memang biasanya tente sama om begitu, setelah pulang kerja langsung istirahat karena tugas mereka bener-bener bikin mereka perlu istirahat. Bisa dibilang Person of busy.” Ka Ripa duduk disebelahku
“gapapa koq ka.. aku ngerti”
“kamu laper ga?” tanyanya
“hm.. iya ka aku laper.. hhe”
“yaudah... yuk makan. Kaka bakal buatin sushi spesial buat kamu”
“kaka bisa bikin sushi? Benarkah?”
“iya.. yaudah yuk cepet!” ka Ripa menarik lenganku
aku tersenyum senang. Terimakasih god. Di negri yang asing dan menyenangkan ini aku bisa bertemu dengan orang sebaik ka Ripa.

XXXXX

Esoknya, pagi-pagi buta aku udah duduk manis di livingroom, ditemani dengan secangkir ocha hangat. Tumben ka Ripa belum keliatan, dia belum bangun kali yaa..
aku mengklik red tombol yang ada di remote, sebuah tv Lg berukuran besar menyala sempurna di dinding. aku melihat film jepang yang menceritakan ibu dan anak. Seketika hati aku ingat mamah. Padahal baru 3 hari.. tapi udah kangen kaya gini. Mamah, love you so much. aku tersenyum dan sedikit meneteskan air mata.
Ternyata di tangga sana, sensei bisky memerhatikanku, ia langsung menghampiri dan duduk disebelah aku
“Manda.. “
“aih.. tante, eh maaf. Sensei.. hmm”
“kalo dirumah tante aja. Nanti kalo di Japan Foundation baru panggil sensei”
“oh begitu.. iiya”
“gimana? Kamu betah ga?”
“hm.. mencoba menyesuaikan sih tante”
“bagus.. 2 hari lagi musim semi akan berlalu, dan udah jelas musim dingin bakal datang. Tubuh kamu pasti akan sulit menyesuaikan suhu disini.”
“aku udah bawa baju hangat koq tan.”
“dari indonesia?”
“iya..”
“ada berapa?”
“Cuma satu.. hehe.”
“gak bakal cukup, tante saja yang sudah lama disini perlu 2 lapis mantel”
“o yah?” tanyaku sedikit kaget
“sedingin itukah tante?”
“iya.. nantii biar Ripa yang anter kamu beli mantel yaa..”
Tiba-tiba Ripa datang.
“apa tan?” tanyanya menyambung obrolan
“hari ini kamu gak ke kampus kan?”
“he’em..”
“antar manda belanja mantel ya. Persiapan menyambut musim dingin”
“oke.. never mind”
“yaudah.. kita sarapan dulu yaa.. tante udah siapain bread and selai strowberry ”
“pineapple tan?” kata ka Ripa.
“ada juga koq”
“om Leorio gak ikut sarapan?” tanyaku
“ia udah berangkat dari tadi pagi. Ada tugas diluar kota”

 XXXXX

“Ripa..” kata tante Bisky
“iya tante.. ada apa?”
“menurut kamu manda gimana?”
“orangnya baik..”
“cantik juga kan?”
“ah? Hm.. ya cantik..”
“heehe.. selagi kamu lagi libur. Ajak ia keliling tokyo. Kasian, mulai dari besokkan ia harus menghabiskan waktunya belajar di JP. Paling ada waktu libur lagi sehari sebelum ia pulang.”
“sepadat itu jadwalnya?”
“iya.. kamu mau ya?“
“iya tante”

XXXXX

Setelah itu aku dan ka Ripa langsung menuju pusat perbelanjaan untuk membeli mantel.
“kaka libur hari ini?” tanyaku saat mobil mulai melambat
“iya nih manda.”
“weekend dong yaa?”
“sama aja, gak ada aktivitas khusus”
“koq begitu?” aku menoleh kepadanya
“kecuali kamu mau nemenin weekend aku”
“kemana?”
“kemana aja”
“gak bakal ditanyain tante bisky?”
“gpp.. tadi aku udah bilang koq. kamu mau kan?”
“iya ka...” aku tersenyum.
Hari ini aku menuju pusat perbelanjaan, memasuki toko yang menjual mantel hangat. Pengunjungnya sangat padat, mengingat 2 hari lagi musim dingin akan datang. Disana ka ripa memilihkan 4 mantel berwarna pink muda, biru dongker, hitam dan hijau tosca, topi hangat, sarung tangan dan syal sakura. Dia begitu sabar dan terlihat sangat menikmati, begitupun dengan aku, hanya beberapa hari saja aku udah merasa nyaman berada didekatnya. Ka Ripa... sosok lakilaki gentle dan cerdas. Wajahnya juga sangat unik, seunik nama akhirnya, killua.. seperti tokoh kartun jepang hunter x hunter.
Setelah berbelanja ka Ripa mengajakku ke sebuah resto.. disana aku memesan sushi spesial dan ocha. Sedangkan ka Ripa. Ia memesan stick daging bakar. Ternyata ini makanan kesukaannya.
Setelah menghabiskan makanan, ka Ripa mengajakku ke sebuah jembatan penghubung kota. Indah dan romantis, tidak heran banyak pasangan yang mengunjungi tempat ini.
Ka ripa memegang lenganku  saat aku sedang asyik mengambil gambar. aku menoleh bingung.
“kamu suka tempat ini manda?” tanyanya
“aku suka banget ka..” aku tersenyum dan kembali memegang tangannya.
“o yah.. lain kali pacarmu ajak kesini” kata ka Ripa
aku segera melepaskan tangan ka Ripa. Pacar? Ah... Ka Ripa mengira kalau aku punya pacar? Huft.. kirain dia tadi memegang tangan aku karena refleks tulus dari hatinya. Ternyata? Ah.. itu berarti pandangan dia selama ini, hanya pandangan empati, tanpa arti, seperti Taufan. Duh,, kenapa tiba-tiba aku keinget taufan? Ya,, lakilaki jahat yang udah membuat luka, tapi kenapa hal itu juga hampir sama dengan ka Ripa?. aku gak  mau kalo sampe ini terulang lagi. aku gak mau sakit hati lagi..
“manda?” kata ka Ripa membuyarkan semuanya.
“kamu kenapa?” tanyanya lagi
“bisa antar aku pulang..” ucap aku dingin
“kamu mau pulang? Padahal kita baru saja kesini. Kamu gak mau memotret lebih banyak tempat ini lagi?..”
aku menggeleng pasti
“o yah.. kamu juga belum difhoto loh.. sini kaka fhotoin”
“gak perlu.. aku mau balik ke apartemen”
“oh.. yasudah” kata ka Ripa pasrah.
 Dijalan arah pulang, tidak ada percakapan antara aku sama ka Ripa. Sengaja aku memasang eartphone.
Ka ripa sesekali menoleh kearah aku. aku tetep cuek dan masabodo. Terlihat dari bibir yang aku tarik menukik.
Mobil berhenti sempurna diapartemen, aku segera turun dan menuju apartemen tanpa menunggu ka Ripa memarkir mobil.
Memasuki kamar, dan menangis terisak dipelukan teddy bear.
“kenapa harus kaya gini lagi sih? Kaka kenapa harus begitu juga? Emang semua lakilaki begitu ya? Nyebelin.. gak mau kalo sampe kejadian itu terulang lagi. Nggaaakkkkkkkkkkkkk.. hiks.. hiks” tangisku terus meleleh. Sedih rasanya jika aku harus mengingat apa yang taufan pernah lakuin. Dan ka ripa?  Lakilaki yang bikin aku nyaman, ingin mengulanginya.. oh tidak.. jangan harap kalian bisa seenaknya sama aku”
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Manda...” suara ka Ripa dibalik pintu
aku cepat-cepat mengusap airmata.
“manda.. ini belanjaan kamu.”
Oh my god. Kenapa aku sampe lupa sih? Duh,, gimana ini? masa aku harus keluar dengan keadaan yang kaya gini? kalo aku gak keluar, ga sopan kesannya. Bagaimanapun aku tamu disini.
Yaudah deh aku keluar aja.
“hm.. iya ka” aku membuka pintu
“ini belanjaan kamu, tadi ketinggalan dimobil. Kamu lupa membawanya?” tanya ka Ripa
aku menggangguk “iya ka.. maaf..”
“kamu kenapa? Marah sama aku?”
”hm.. gak koq ka. Aku gak kenapa-kenapa”
“terus kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang, padahal kaka tau banget kalo kamu masih pengen disana lebih lama lagi”
“pengn pulang aja”
“manda”
“hm?”
“kamu nangis? Kenapa?”
“nggak,, ini Cuma kelilipan koq ka”
“jangan bohong! Kamu nangis gara-gara kaka ya?”
“hm.. nggak ka” Hiks...hikss
“kamu kenapa manda?” ka Ripa berbisik
“nggak ka, aku gak kenapa-kenapa.. hiiks.. hiks”
“maafin aku”
“kaka gak perlu  minta maaf.. kaka gak salah”
 “kaka tau, pertanyaan kaka tadi udah bikin kamu kaya gini. Maafin kaka ya”
“hiks... hiks”
“manda.. cerita sama kaka. Ada apa sebenarnya. Kalo emang gara-gara pertanyaan tadi kamu kaya gini. Emangnya kamu diapaakan oleh pacar kamu. Diselingkuhin? Dihianatin? Atau disakiti?”
“stoppp! Aku gak kenapa-keanapa.. dan inget! Kalo aku itu GAK PUNYA PACAR.. jadi aku harap kaka gak ngomong yang macam-macam.. maaf  ka aku mau istirahat” aku langsung menutup pintu kamar.
XXXXX

“kamu udah siap manda?” tanya sensei bisky
“iya sensei..”
“ini kelasnya.. sebentar lagi akan ada sensei Takashi. Ia pimpinan JP. Bersikap yang baik ya..”
aku mengangguk.
Tak lama sensei Takashi masuk ruangan, disana ia memperkenalkan diri, lalu memberikan motivasi kepada siswa yang ada diruangan ini.
Setelah selesai. ada seorang perempuan berwajah tegas memakai kimono bergantian memasuki ruangan, ia panitia JP. Beliau menjelaskan semua kegiatan yang akan dilakukan seminggu kedepan, dimulai dari besok yaitu pidato, debat, menyanyi, rolleplay, perkenalan budaya, dan interview.
 “Akan ada satu orang yang akan memenangkan perlombaan ini, maka dari itu sebisa mungkin, kalian manfaatkan sensei pembimbing kalian. Karena kalian merupakan teamwork.” Ucapnya
aku menoleh kearah sensei Bisky, ia tersenyum, aku pun ikut tersenyum.

XXXXX

Sepulang dari JP. aku langsung dibawa ke asrama, disana aku mulai dilatih oleh sensei bisky, hingga larut malam aku dan sensei terus berlatih, karena kami tidak mau jika sampai kami tereleminasi. Maka dari itu perlu berlatih yang luar biasa, mengingat lawan yang tangguh-tangguh.
Esoknyapun aku  memulai perlombaan. Dan setelah pengumuman hanya 5 orang yang tersisa. Yaitu aku dari indonesia, Van beef dari Belanda, William Denar dari AS, Rajaratnm dari singapur dan lawan yang benar-benar tangguh Kurapika dari jepang.
Sensei Bisky sangat kagum kepadaku, karena that is a history because the first something. Oh. Sensei memeluk ku. Tapi tidak puas dengan itu, aku dan sensei Bisky melanjutkan pelatihan untuk mempersiapkan perlombaan selanjutnya, karena pertempuran ini baru saja dimulai.

Saat debat, aku dan Van beef kebagian pro group, william dan kurapika kebagian kontra group sedangkan Rajaratnam sebagai penengah. Alhasil dalam perlomban debat ini perwakilan dari singapur yang harus tereleminasi.
Setelah itu aku dan Van bersahabat, karena gara-gara kejadian kemarin saat aku dan van menjadi satu group.

Selanjutnya lomba menyanyi, dan dengan terpaksa pada perlombaan ini Van harus tereleminasi, keterbatasan suara beliau yang membuat perjuangannya terhenti disini, dari awalpun emang dia sudah pesimis dengan perlombaan menyanyi ini karena dia tau menyanyi adalah kelemahannya yang utama.
Sedih memang, karena kini diasrama hanya ada aku, william dan kurapika.
Mereka lelaki yang sangat tangguh, sedangka aku? perempuan lemah, pasti pada perlombaan rolleplay aku yang bakalan tereleminasi, namun sensei bisky terus menyemangati. Ia meyakinkanku kalo aku harus bisa. Karena di rolleplay ini butuh perasaan bukan ketangguhan seorang lelaki.
Kami bertiga dijadkan satu tim. tema pada rolleplay kali ini tidak lain adalah cinta, diceritakan kalo aku seorang permaisuri jepang, sedangkan william dan kurapika seorang lelaki yang berebut mendapatkan hati permaisuri, di skenario. Kurapikalah yang akan memenangkan permaisuri, dan william harus mengalah, namun kenyataannya.. william tidak mau mengakui kekalahannya, ia melenceng dari skenario karena hampir saja ia melukai kurapika yang sedang memelukku sebagai permaisurunya. Dan akhirnya william didiskriminasi atau bisa dibilang ia tereleminasi. aku kaget bercampur senang, senang karena akhirnya aku masih bisa bertahan dan kaget karena kenapa william begitu? apa dia lupa dengan teksnya?, namun setelah sensei Tonari yaitu sensei pembimbing william menceritakan, bahwa william begitu, bukan karena lupa teks, malah karena ia mencintaiku. dan ia menitipkan surat untuk aku  disana ia bilang bahwa ia ingin bertemu denganku di taman asrama.
Esoknya saat jam break, aku bergegas menuju taman asrama. Seorang lelaki berkulit putih, hidung tajam dan rambut pirang telah menungguku.
“manda.. akhirnya kamu datang juga” ucap dia dengan berlogat bule
“aku datang william. Ada apa?”
“aku tau manda.. aku bodoh. Tapi aku begini karena aku tidak mau kamu bersama orang lain”
“what do you mean william?”
“i love you manda”
“what? What do you speak. I’m not understand”
“sorry manda.. if this quick, but my heart is love you”
Tak diduga dari kejauhan ka Ripa mendengar percakapanku dan william.
“sorry  willi.. l’m can’t because l loven’t you. Sorry willi.. l’m can’t”
“ah? If you want, never mind.. aku terima manda. Tapi sampai kapanpun I will always love you. I will miss indonesian.”
aku menunduk. Willi meninggalkanku sendiri ditaman asrama. Sepertinya ia kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak  mencintai Willi,  aku menganggapnya hanya teman, dan gak lebih karena aku tau hati ini masih terisi oleh seorang lelaki baik dan cerdas itu. Ka Ripa. Tapi sampai kapan aku bakal memendam perasaan ini? sejak kejadian itu, sampe sekarang aku gak pernah bertemu dengan dia lagi, aku tidak pernah ke apartemen lagi. Dia juga tidak pernah menjengukku ke asrama. Ya.. memang dia pasti sedang sibuk kuliah. Karena aku juga tau dia murtel di kampusnya. Tapi kira-kira kapan ya aku ketemu dia lagi.?
“Ka Rippaaa...................................... Manda kangen sama kakaaaa” aku berteriak mengungkapkan perasaan yang rasanya udah enggak bisa dipendam lagi.
Eh? aku celengak celinguk, memastikan tidak ada yang mendengar teriakan aku tadi.
“duh,,, aku kelepasan. Semoga aja gak ada yang denger” ucapku  yang masih duduk dibangku taman asrama yang sedari tadi terlihat sepi.
“aku juga kangen sama kamu manda” tiba-tiba suara itu berbisik ditelingaku. aku terperanjat tak percaya dan segera menoleh.
“ka Ripa? Koq ada disini? Dari kapan?”
“iya.. kaka disini karena denger teriakan kamu barusan”
“hah? Kaka salah denger kali. Aku sama sekali nggak berteriak” kata ku pura-pura.
“terus siapa yang kangen ke aku diasrama ini selain perempuan dihadapanku ini?” ka Ripa duduk disebelahku
“hm.. maafin aku ka” aku menunduk malu
“aku juga kangen sama kamu manda..” ucap ka ripa sambil memegang tanganku
aku mendongak. Ia tersenyum
“manda.. kamu mau ga jadi pacar aku?”
 aku tersenyum lalu... mengangguk
Ka Ripa segera memelukku  erat dan mencium keningku  romantis

XXXXX

Ini adalah perlombaan penentuan siapa yang akan memenangkan perlomabaan keseluruhan dan penentuan siapa yang akan mendapat gelar murtel pada pertukaran pelajar tahun ini.
Berbagai usaha telah aku lakukan yang tentunya dengan bantuan sensei Bisky dan ka Ripa.

“ka.. aku takut” ucapku
“tenang sayang.. kamu pasti bisa” kata ka Ripa yang terus memegang tanganku yang telah dingin
“yakin ya.. kamu itu pasti bisa. Keluarin semua kemampuan kamu.” Ucap ka Ripa menasehati. Tapi aku masih saja harap-harap cemas. Tangan dingin dan gemeteran.
“sorekara no seito wa manda anggraeni-san...” terdengar panitia telah memanggil namaku untuk tampil.
“sayang.. doa in aku ya” pintaku pada ka Ripa
“pasti sayang.. semangat ya.!” Jawab ka Ripa

Setelah aku berada diatas panggung pertunjukan. Seketika aku mengingat mamah, papah, sensei Vera, Naila yang saat aku masih di Indonesia mereka bener-bener ngelatih aku bagaimana cara memperkenalkan budaya indonesia. Guru seni disekolah juga sering ngasih pujian kalo aku emang bener-bener ahli dibidang ini. aku tahu kurapika hebat dan ahli juga, tapi itu bukan berarti aku harus down. Ayolah Manda.. show it up!
Terdengar tepukan tangan penonton yang mencoba menyemangatiku yang sedari tadi masih diam.
“ya Allah.. bantu aku”
aku pun memulai atraksi.......................
Saat atraksi selesai semua orang memberi standing applouze terutama juri, Oh god,, thank you.

“hebat! Kamu hebat manda!” ucap sensei Bisky sambil memelukku saat turun dari panggung. aku membalas pelukannya.
“besok siang pengumuman kejuaraannya manda. Lebih baik sekarang kamu istirahat.” Kata sensei Bisky
“Ripa.. kamu bawa mobil kan?” tanya tante Bisky kepada ka Ripa,
Ka Ripa mengangguk.
“yaudah, ajak manda ke apartemen ya. Kasian dia perlu istirahat”
“oh.. tante juga ikut kan?” tanya ka Ripa
“nggak.. tante tetap disini. Akan ada rapat pleno untuk seluruh pembimbing”
“oh begitu.. yudah Ripa sama manda pulang dulu ya..”
“iya.. hati hati ya ripa.. manda”
“iya.. sayonara sensei”
“sayonara”

XXXXX

Diperjalanan aku membuka tab dan segera mengirim pesan

Send : Mamah
“gimana kabar mamah.. manda kangen. Oh iya.. akhirnya perlombaan selesai. besok siang pengumumannya. Doa in ya mah”

Send : Sensei Vera
“konnichiwa sensei. O genki desu ka? Huft.. perlombannya udah selesai sensei.. besok siang pengumumannya. Doa in manda ya sensei”

Ada balasan masuk
Form : mamah
“mamah baik sayang, kamu sendiri gimana? baik juga kan? Alhamdulilah kalo udah selesai, kamu jangan lupa istirahat ya. Mamah disini selalu doain kamu”

Form : sensei Vera
“genki.. alhamdulilah akhirnya selesai juga.. semoga aja hasilnya memuaskan ya.. sensei pasti doa in kamu”

aku tersenyum.
“sms’an sama siapa sayang?” tanya ka Ripa yang sedari tadi memerhatikanku
“mamah sama sensei Vera..” jawabku
“oh,, udah selesai kan sms’a?” tanyanya lagi
“he’em..” kataku pelan sambil menghempaskan tubuh ke jok
“yaudah.. kamu cepet istirahat. tidur aja, lumayan perjalanannya jauh”
“terus? Masa kamu nyetir sendirian?”
“gapapa.. udah biasa koq”
“hm.. sayang makasih baget ya.. aku sayang kamu” kataku memegang tangannya.
“iya.. aku juga sayang kamu” ka ripa membalas pegangan tanganku.
“yudah cepet tidur..”
“iya,,” aku memejamkan mata
Ka ripa mengelus kepalaku  manja
XXXXX
Smartphoneku berbunyi, ada pesan masuk dari Naila. aku terbangun.
“Hi manda.. lagi apa? gimana kabar kamu? Kata mamah perlombannya udah selesai ya? Itu berarti kamu bentar lagi back to indo kan? Aduh.. aku kangen banget”
aku segera membalasnya
“aku baik koq, sekarang aku baru bangun tidur nih..hehe. iya aku juga kangen. Ntar jemput ya di bandara”
“pasti dong.. o yah? Bu okta minta nomer kamu. Kasih jangan?”
“hah? Gak salah? Mau ngapain?”
“gak tau... paling nggak jauh mau ngomongin anaknya yang murtel itu kali”
“oh iya yah.. anaknya kan ditokyo, aku baru inget. emang siapa namanya?”
“mau ngapain nanya namanya? Tumben, dulu aja kamu ogah di kasih tau namanya”
“oh.. yaudah deh gak jadi. Gak penting juga kan aku tau namanya. Tokyo kan luas. kalopun harus ketemu dia, Peluangnya kecil banget”
“mulai deh lo.. yaudah deh whatever.. gimana kasih jangan nih?”
aku masih mikir-mikir tak lama ada pesan masuk lagi
“ah.. kelamaan nda. aku udah kasih nomornya ke bu okta”
“yaudah deh gpp.. aku mandi dulu ya nai.. ntar qta sambung lagi”
“mandi? Tengah bolong gini mau mandi?”
“disini udah sore nailaaa”

XXXXX

aku menuruni anak tangga.. disana terlihat Ka Ripa sedang berbaring disofa. aku segera menghampirinya. Dan duduk didekatnya.
“aduh.. sayang koq tidur disofa” kataku
“aku ambilin selimut dulu yaa.. “ saat aku hendak melangkah untuk mengambil selimut ka Ripa menarik lenganku
“sayang?”
“lho.. ternyata kamu nggak tidur?”
“ngga sayang,, kamu udah bangun? Gimana udah fresh lagi kan?” tanya ka Ripa
“iya nih.. aku udah mandi juga. O ya. Kamu yang bawa aku ke kamar?”
“siapa lagi sayang kalo bukan aku”
“dari parkiran?”
“iya.. ternyata kamu berat juga ya.. hehe”
“yeu dasar.. suruh siapa kamu gendong aku”
“terus kalo gak digendong, gimana coba?’
“dibanguninlah yang akunya.. kamu tuh ya”
“mana berani aku ngebangunin my princes aku yang lagi nyenyak tidur”
“ah kamu tuh.. bisa aja”
“dari tadi kamu ngapain aja kalo ga tidur?”
“browsing.. liat info terbaru”
“kenapa gak tidur aja?
“mamah aku lagi ngajar.. gak mungkn aku nelfon dia”
“terus apa hubungannya sama kamu gak tidur?”
“hm.. jelas ada hubungannya lah sayang.. sini deh..” ka ripa menarik lenganku yang sedari tadi masih berdiri untuk duduk disebelahnya.
“sekarang kamu kan pacar aku. Makanya aku kasih tau. Dari kecil tuh aku selalu dinyanyiin kalo mau tidur.”
“terus?”
“ya.. sampai sekarang kalo aku mau tidur aku harus nelpon mamah dulu, minta dinyanyiin”
“kalo yang nyanyiinnya pacar kamu gimna? Kamu bakal tidur ga?”
“gak tau yang.. kamu kan belum nyanyi didepan aku
“emang sebelumnya kamu belum pernah pacaran?
Ka Ripa menggeleng
“bener? Koq?”
“kenapa? Ada yang salah? Emangnya kamu udah pernah pacaran sebelum aku?” tanya ka ripa balik
Aku  juga menggeleng.
“bener?” tanyanya meyakinkan
“iya.. kamu pacar pertama aku” jawabku pelan
“kamu orang yang tepat manda.. makasih ya” ka ripa memegang tanganku. Kini aku berada dipelukan hangatnya.
“entar aku coba nyanyin kamu ya kalo mau tidur..” aku berbisik
“boleh,, entar malem ya sayang”
“iya..”

XXXXX

Ada telpon masuk. aku segera mengangkatnya.
“Halo.. maaf ini siapa?” tanyaku
“ini manda bukan?” dia nanya balik
“iya,, siapa ya?”
“ini bu okta. Gimana kabar kamu manda?” ucapnya disebrang sana
Bu okta? Duh.. pasti dari Naila nih.
“bu okta? Oh.. manda baik bu. Ibu sendiri gimana? Sehat?”
“ibu juga baik.. gimana kamu disana? Sukses kan?”
“belum tau bu. Besok baru pengumuman kejuaraan” jawabku
“oh begitu.. sekarang kamu lagi dimana?” tanyanya
“di apartemen tokyo. Kenapa bu?”
“Apartemen TA bukan?” tanyanya lagi
“iya,,”
“lantai berapa?”
“lantai dua. Emangnya kenapa bu?kenapa ibu nanya begitu?” aku penasaran
“aduh manda. Ibu lupa ngasih tau kamu”
pasti mau cerita tentang anaknya. Aku menebak
“anak ibu juga tinggal disitu”
“oh.. begitu ya?”
bener dugaanku, aku menyunggingkan senyum
“iya manda.. entar kapan-kapan main ya ke apartemen Ripa”
hah? Ripa? Kenapa harus sama sih namanya?
“main? Emangnya mau apa bu? Aku kan gak kenal sama anak ibu”
“entar ibu yang akan ngenalin kalian.”
“lho.. kenapa manda harus kenal dia?” aku menggernyit
“sekalian ibu mau minta tolong sih manda.. hehe gpp kan?”
“oh begitu.. terus gimana caranya?”
“ntar ibu chat ripa. Kamu malam ini sibuk ga?”
“nggak bu..”
“yaudah.. kamu tau kan depan apartemen itu ada taman?..”
“iya,,”
“oke.. jam 7malam kamu kesitu ya.. ntar ibu suruh ripa untuk kesitu. Kalo besokkan kamu pasti sibuk ke Japan foundation lagi.”
“oh iya bu..”
“bener gpp kan? Soalnya ada yang harus dititipin”
“apa?”
“hadiah ulangtahun ibu. Hehe”
“ibu ulangtahun? Kapan?”
“entar 2 hari lagi”
“tanggal 8 Juni?”
“iya..”
“yaudah iya bu”
“yaudah gitu aja ya manda.. ntar ibu telpon lagi”
“iya..”
XXXXX

Tuh kan apa kataku, hm.. pasti bu Okta sengaja deh. Supaya aku bisa ketemu sama anaknya itu, hadiah ulangtahun? bisa kan lewat paket? Kenapa harus nitip ke aku sih. aku terus mendumel sambil mengetukan kaki ke lantai karena sebal.
Saat aku melihat jam dinding, pukul menunjukan jam 5 lewat. Tiba-tiba smartphoneku berbunyi lagi
Siapa lagi sih yang nelpon? Desahku
Ternyata wajah ka Ripa ada dilayar, itu berarti ka Ripa menelfonku.
“halo..”
“say.. lagi apa?”
“lagi istirahat aja nih dikamar. Kamu udah selesai mandinya?”
“udah.. yang aku keluar dulu ya. Kamu gpp kan di apartemen dulu. Sebentar koq”
“oh.. mau apa emang?”
“ada perlu.. lagian aku gak tega ajak kamu keluar. Diluar saljunya turun deras.”
“iya.. gpp koq. kamu hati-hati yaa?”
“iya.. bye”
Nut..nut..

XXXXX

Ka ripa keluar kamar, menuruni anak tangga dan segera meluncur kesebuah toko yang lumayan jauh, ia menggunakan 2 lapis mantel hangat dengan topi yang terbuat daru kulit  yang lembut.
Sore hari begini kota tokyo sangat ramai, walaupun salju turun deras, tapi ini merupakan keindahan tersindiri di kota ini. terlihat hilir mudik orang-orang yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
Ka Ripa memarkirkan mobilnya, masuk kesebuah departemen store, dan menuju kesebuah toko perhiasan ia memilih sebuah gelang cantik, yang terbuat dari brilian termahal, ia sengaja mengumpulkan uang sakunya untuk membeli gelang brilian itu untuk hadiah ulangtahun mamahnya yang di indonesia, mamah yang sangat ia sayangi, mamahnya juga begitu, ia sangat menyayangi ripa. Buktinya sampai sekarang, jika ripa hendak tidur ia selalu minta dinyanyikan oleh mamahnya itu. Jarak bukan penghalang bagi mereka, karena kecanggihan telekomunikasi yang membantu ripa bisa mendengar suara mamahnya dikala kantuk telah menyerang.
“arigato gozaimasu(terimakasih)” ucap ripa keseorang pelayan. Ia segera kembali ke parkiran dan menggas mobilnya melaju pulang.

XXXXX

“duh.. apa aku berangkat sekarang aja ya? Hm.. tapi kira-kira mesti bilang dulu ga sama ka Ripa?” aku bingung sambil melihat arloji dilenganku
“tapi ka Ripa jam segini belum dateng juga.. apa aku telfon dia aja? Ah.. kayaknya jangan deh.. takut ganggu” aku terus mikir.
“yaudah deh.. aku kan Cuma mau ngambil kado. Paling sebentar.” Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman tanpa bilang terlebih dahulu ke ka Ripa karena aku anggap toh hanya sebentar.
Saat aku buka tirai jendela, diluar salju turun deras, aku menekuk bibir. Merasakan dinginnya diluar sana.
Udah jam 6 15 menit nih.. mana sih ka ripa? Aku gak berani keluar sendiri. Akhirnya aku terpaksa menelpon ka Ripa, karena aku gak mau dia marah Cuma karena aku gak bilang mau keluar apartemen, lagian aku gak berani keluar sendiri.. inget nasehat mamah juga. Segera mencalling my prienc. Tak ada jawaban..
Kemana sih kamu sayang? Tumben telpon aku ga langsung diangkat?. aku terus menelpon berulang kali tapi tetap aja gak ada jawaban. Karena waktu udah pukul 6.45, akhirnya aku memberanikan diri keluar sendiri. Gak mungkin kan aku tiba-tiba nolak perintah guru aku sendiri? Gini-ginikan aku patuh sama guru, walaupun sering marah juga kalo ga sreg, tapi itu hanya ungkapan emosi aja koq. sebenernya aku menghargai mereka, termasuk bu okta. Dia baik, perhatian sama siswa, tapi hanya satu yang bikin aku suka kesel sama dia, gak lain gara-gara anaknya yang manja itu. Duh.. jadi penasaran deh pengen liat wajah anak manja itu, jangan salahin aku kalo fhoto dia bakal aku pajang dimading sekolah kalo aku udah balik nanti. hehe. aku mengenakan 3 mantel hangat ditambah baju piama yang aku pake sekarang. Menuruni anak tangga dan mencoba mengumpulkan kebranian.
Pasti aku berani! Masa iya udah seminggu disini, ke taman didepan aja aku gak berani? aku menyunggingkan senyum.

XXXXX

“akhirnya aku selesai juga bikin kado buat mamah.. gini nih kalo tangan ga kreatif. bungkus kado kecil aja ngebutuhin waktu 15 menit.. “ ucap ka ripa yang sedari tadi berusaha membuat kado di dalam mobil, ia terpaksa memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, karena ia tau waktu ia ga banyak, mamahnya memberi tau sangat mendadak kalo ia meminta kado ulangtahunnya dititipkan  kepada siswanya yang kebetulan sedang pertukaran pelajar ditokyo.
“o yah? Tadi mamah bilang. Ingin menitipkan kado ini kesiswanya yang lagi pertukaran pelajar? Kira-kira manda kenal ga ya sama siswa pertukaran pelajar yang dari indo juga? Janganjangan mereka temenan? Coba tanya deh sama manda..”
Ka ripa segera mengambil smartphonenya di jok belakang. Ternyata 13 miscall dari manda.
“manda? Kenapa dia telpon sebanyak ini? ada apa ya? Aduh aku lupa kalo handphone ku di silent. Maafin aku sayang”
Ka ripa segera menelfon balik, tapi panggilan sibuk, itu berarti sedang ada telpon masuk ke manda.
“sibuk? Emangnya manda lagi nelfon siapa?” ka ripa mulai cemas.
Saat ia lihat arlojinya, waktu telah menunjukan pukul 6.50.
“shit! aku harus cepet-cepet ke taman nih.. tapi manda? Ah.. moga aja dia gak kenapa-napa. Sebentar ya sayng.. aku kasih kado buat mamahku dulu..” dengan spontan, ia langsung menggas mobilnya. Dia berharap saat jam tujuh tepat mobilnya sudah mengantarkan ia ketaman depan apartemen itu.

XXXXX

“iya bu.. manda udah di gajebo dekat taman nih.. bilang manda pake mantel warna hijau tosca.”
“iya gpp koq bu.. sama-sama”
Klik.
“busyet.. udah pake 3 mantel masih aja dingin.. moga aja anaknya bu okta cepet dateng.. kalo gak, bisa mati kedinginan nih,,”
aku terus mengusap-usapkan telapak tanganku berharap tangan ini gak beku.
Saat aku liat smartphone lagi, ternyata sampai sekarang ka ripa belum ngabarin aja.
“kemana sih kamu sayang?”

XXXXX

Ada pesan masuk
“Ripa kamu masih dimana? Kenapa telfon mamah ga diangkat? Kasian murid mamah udah di gajebo taman daritadi. Kamu cepat kesana yaa.. dia pake mantel hijau tosca”

“tadi aku lagi nyetir mah. iya mah.. aku udah sampe  taman. Baru aja turun dari mobil. Bilang aku pake mantel silver” balasan ka ripa

Ka ripa segera menuju gazebo yang ada diujung taman. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memainkan smartphonenya, menggunakan mantel hiaju tosca..
“pasti itu muridnya mamah...” tebak ka Ripa.

XXXXX

“anak ibu pake mantel silver. Dia sedang menuju kesitu. Jangan khawatir. Dia baik.. kalo ada apa-apa hubungi ibu yaa” pesan dari bu okta.

Sengaja aku gak balas pesannya , aku terus celengak celinguk menunggu anaknya bu okta itu. Udah gak sabar pengen liat plus motret photonya.. ets! Buat pajangan dimading sekolah ya.. bukan untuk dijadikan koleksi or sejenisnya.

XXXXX

“permisi..” ucap lelaki itu
aku menoleh.
“Ka Ripa.. koq kaka disini?”
“manda.. lho.. koq kamu disini? Lagi ngapain? Koq kamu gak bilang sama aku?”
“harusnya aku yang nanya sama kaka. Kenapa kaka ada disini? Katanya ada perlu. Ditelponin dari tadi.”
“iya sayang aku ada perlu..”
“ada perlu apa? Terus ngapain bawa kado segala? Mau kencan ya?”
“jangan aneh!”
“kaka yanga aneh. Dari jam 5 sampai sekarang gak ada kabar. Ternyata lagi ngerencanain sesuatu buat kencan. Iya kan?”
“denger penjelsan aku dulu sayang..”
“udah deh.. whatever” aku segera meninggalkan ka Ripa, kembali ke apartemen dengan hati yang campur aduk.
“sayang?? Yang?? Mandaa? Hei....???” panggil ka ripa
aku gak peduli. aku terus berjalan meninggalkannya.

Tuk..tukk..tuk..
“sayang.. boleh aku masuk”
“mau ngapain lagi ka?”
“biar aku jelasin semuanya!”
“Semuanya udah jelas. Gak ada yang harus dijelasin lagi”
“sayang.. pleas. Ijinkan aku ngejelasin semuanya..”
“gak perlu.. manda mau istirahat!” bentakku
“trust me honey, pleas”
Akhirnya mendengar ucapan tadi, aku luluh, dan akhirnya membuka pintu.
“sayang.. biar aku jelasin yaa semuanya” ka ripa memegang lenganku. Kami duduk disofa dekat jendela.
“hmm...”
“sayang.. tadi tuh aku mau beli kado buat mamah..”
“so, kenapa telfon aku gak diangkat terus? Males? Yaudah!”
“bukan sayang..”
“terus kenapa? Apa sibuk nyiapin semuanya buat kencan? He’eh?”
“nggak, siapa yang mau kencan? Tadi kan aku bilang. Aku lagi sibuk beli kado buat mamah. Telpon kamu ga diangkat karena kebetulan handphone aku di silent. Aku lupa sayang”
“oh..”
“masih ga percaya?”
“terus ngapain kamu ditaman? Mamah kamu kan di indo! Kenapa nggak ke kantor pos? Buat ngirim paket!”
“makanya aku mau jelasin!”
“yaudah cepet jelasin! Daritadi!” emosi aku mulai lagi.
“ok.. mamah bilang dia mau kadonya dititip aja sama muridnya yang ada disini”
Hah? aku menggernyit
“iya.. dia sedang pertukaran pelajar juga. Kamu kenal ga say? Tadinya aku mau nelpon kamu, mau nanyain soal ini. eh kamu busy..”
“hm...”
“emang lagi nelpon siapa tadi?”
“guru aku di indo”
“oh...” ka Ripa seperti tidak percaya
“terus?” Tanya aku penasaran
“ya,, dia bilang muridnya ada digazebo taman, pake mantel hijau tosca, makanya aku nyamperin..” dia mencoba menjelaskan
“what? Kenapa semuanya sama gini sih?”
“maksud kamu? Emangnya tadi kamu lagi apa disana? Apa kamu yang lagi mau kencan?”
“ngaco! Maksud aku itu hmm... tapi masa sih?” aku mengira-ngira apa yang dimaksud bu okta itu ka Ripa.
“kenapa?”
“duh.. gak mungkin! Tapi.. berarti?”
“knapa sayang? Aku gak ngerti!” ka ripa terlihat bingung, tapi tak sebingung aku.
“bentar.. kamu tau ga namanya murid mamah kamu itu siapa?” aku mulai menyelidiki ketabuan itu.
Ka ripa menggeleng ”aku lupa nanya kemamah saya”
“ga tau? Duh.. oh.hm…. Terus ulangtahunmamah kamu kapan?
“8 juni”
“mamah kamu namaya bu okta bukan?
“iya.. koq kamu tau sayang?
“ngajar pkn kan?”
“iya..”
“berarti kamu anak manja itu. Yang harus dinyanyiin setiap sebelum tidur? Iya?”
“aku kan udah cerita soal ini ke kamu sayang”
“aduh,, kenapa aku gak nyadar sih?”
“nyadar apa? Kamu malu punya pacar kaya aku”
“namanya juga sama RIPA...”
“namanya sama? Sama dengan siapa?”
“oh my god” aku menepuk kening
“kenapa manda? Daritadi kamu gak jawab pertanyaan aku”
“tunggu! Mana nomer mamah kamu?”
“buat apa?”
“mana sini!”
Ka ripa memberiakan smartphoennya. aku mencocokan dengan nomor bu okta, tenyata benar dugaanku, berarti selama ini anak yang aku bilang manja ternyata that is ka ripa, pacar aku, tapi? Duh,, kenapa semuanya kebtulan gini sih? Dunia emang sempit..
“sayang? Are you fine?” tanya ka ripa khawatir, melihat aku  menghempaskan tubuh diatas sofa
“manda? Kamu kenapa?”
aku terus mengutuki kekonyolanku. Kenapa aku gak analitis banget sih.. se detail itu. Oh.. terus? Mau ditaro dimana mukaku? Dulu kan aku anti banget, denger ceritanya aja aku  ogah, apalagi tau namanya. Tapi sekarang? He is my boyfriend.. duh... mamahh..............................................
“sayang?” ka ripa menghelus rambutku
Oke,, mungkin ini karma,ets! Karma? Kayaknya bukan deh.. soalnya ternyata dia  gak seperti yang aku bayangin.. dia itu gak manja koq. dinyanyiin? Wajar lah! Toh dia juga bilang kalo pacarnya sekalipun ada kemungkianan buat dia tidur. Jadi? Gak usah malu dong.. lagian ka ripa kan gak tau kalo aku dulu ilfil sama kelakuan dia, bu okta juga nggak tau. Tapi nailaa? Duh... orang satu itu tuh,, tapi? Udahlah! Itu gampang. Berarti.. bu okta calon mertua aku? Duh.. bisa-bisa gue jadi prioritas utama pembicaraannya dikelas ntar.. ahh!!
“manda?? Kamu gak apa-apa kan? Apa kamu masih marah sama aku? Yaudah! Kalo kamu marah.. mungkin lebih baik aku pergi. Aku emang ga cocok buat kamu! Maafin aku sayang!”
Ka ripa berdiri dan nyaris meninggalkanku
“sayang?” aku memanggilnya. Ia menoleh dan aku segera memeluknya..
“maafin manda sayang”
“gpp.. aku yang harusnya minta maaf” ka ripa membalas pelukanku
“aku sayang kamu”
“iya.. aku juga sayang kamu. Maafin aku ya sayang..” ucap ka Ripa
Kini aku masih berada dipelukan hangatnya, you know? Itu semua sangat nyaman. Aku  benar-benar mencintainya... mencintai sosok ka ripa yang begitu sempurna bagiku, dia yang ngembaliin warna dalam hidupku ini. Sekaligus yang mengobati lukku, luka yang dulu dibuat oleh Taufan, lakilaki yang gak punya perasaan.
“jadi gitu ceritanya” ucap ka Ripa setelah mendengar penjelasan tentang hubungan aku sama bu okta diindo.
“iya.. tapi kalo di liat-liat kamu emang mirip sama bu Okta”
“masa sih?”
“iya..”
“kamu nyadar ga sih yang?”
“nyadar apa?”
“kenapa semuanya kebetulan gini?”
aku mengangkat bahu
“apa mungkin kita jodoh?”
“semoga yaa” ucapku penuh harap.

XXXXX

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu benar-benar datang, dengan harap-harap cemas aku menunggu detik-detik sejarah dalam hidupku
“ka?” aku memanggil ka ripa yang padahal sedari tadi ia berada didekatku.
“iya.. tenang honey.. you can! I believe you”
“takut ka. Kalo gak dapet gimana? Yah.. pasti semua orang kecewa sama aku”
“hush! Kamu jangan ngomong kaya gitu. Kamu udah keluarin semua kemampuan kamu.. dan sekarang kita Cuma bisa berdoa semoga kamu bisa memenangkan semuanya.”
“kaka yakin aku bakal menang?”
“pasti sayang.. i believe, you are the winner”
“hmm... thank you” aku bersandar dibahu kokohnya.

“baik, setelah seminggu melakukan perlombaan, dan hanya ada satu pemenang.. siswa yang benar-benar ahli dalam semua bidang perlombaan. Dan ini merupakan sejarah. A mirecle history. Because this’s amazing amazing and amazing.. you know? The winner is Manda Anggraeni from Indonesia” kata-kata itu jelas terdengar.
Oh.. benarkah ini? apa hanya mimpi? Atau khayalan ambisiku yang mengobsesi? Akhirnya semuanya terasa gelap. Aku tak sadarkan diri

XXXXX

Saat aku tersadar, aku berada disebuah kamar, kamar yang baunya begitu menyengat hidung, ah! aku gak suka obat!
“aku dimana?” kepalaku masih terasa pusing.
Dan saat aku hendak menggerakan tangan kananku, berat. Ternyata ada seseorang yang tertidur. Dengan susah payah aku meraihnya menggunakan lengan kiri yang sedang di infus.
“sayang?” aku mengelus rambutnya
“eh? sayang Kamu udah sadar.” Kata ka ripa terbangun dari tidurnya.
“aku kenapa ka?”
“kamu tadi pingsan saat mendengar pengumuman kejuaraan”
“hah? Hasilnya?”
“you are the winner honey..”
“sungguh?”
“ya.. aku bangga sama kamu” kata ka Ripa

XXXXX

Ini adalah hari terakhirku berada dinegri yang penuh cinta ini, huh! Sedih? Bangett! aku gak bisa bayangin kalo aku harus bener-bener berpisah sama ka ripa. Walaupun aku berhasil memenangkan perlombaan dan mendapat beasiswa kuliah di universitas yang sama dengan ka ripa. Tapikan? Itu masih lama. aku harus nunggu lulus dulu. Ka ripa gak mungkin pindah kuliah ke indo cuma gara-gara hubungan kita. Gimana ini? aku bener-bener gak sanggup.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu
“manda.. apa kamu lagi sibuk?” suara tante bisky dibalik pintu
“oh? Tante?” aku membuka pintu
“sini masuk tante!” aku tersenyum
“gimana udah baikan?”
“aku udah baik koq tante..”
“tante sangat bangga sama kamu manda.. kamu benar-benar hebat!”
“hm.. ini juga berkat tante!”
“dari awal tante udah yakin, kalo kamu emang siswa yang berbakat”
“dari awal? Sejak kita pertama bertemu?”
“bukan.. sejak sensei vera mengirimkan fhotomu di e-mail”
“o yah?”
“iya manda.. tapi tante khawatir.. besok pagi kamu harus back to indo. Tapi kondisi kamu kan belum pulih”
“hm.. gapapa.. aku bisa koq!”
“yakinn?”
“iya.. masa gitu aja aku gak bisa tante?”
“kalo aja tante libur kerja, pasti tante bakal antar kamu”
“gak perlu tante. Aku bisa koq. tante gak perlu khawatir”
“baiklah.. tante percaya sama kamu. nanti kalo kamu udah lulus dan kuliah disini, kamu tinggal di apartemen ini lagi yaa?”
“hah? Tante serius?”
“menurut kamu tante becanda?”
“hm... aku seneng denger nya tante”
“kalo tante udah gak sabar ngeliat kamu bisa tinggal diapartemen ini lagi”
“doa in aja ya tan.. hehe”
“iya.. terus hubungan kamu gimana sama ripa?”
“Hm.. aku nggak tau tan” aku menunduk
“koq gak tau?”
“ya mau gimana lagi”
“masih satu tahun yaa?”
“hmmmm”
“sabar ya.. tante yakin cinta kalian akan bertahan” tante bisky memelukku, aku pun membalas pelukannya.

Setelah tante Bisky keluar kamar, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dengan langkah gontai aku membuka pintu yang kedua kalinya.
“sayang.. gimana? Kamu udah baikan?” kata ka Ripa yang terlihat begitu khawatir.
“lumayan” ucapku pelan
“maaf ya sayang, aku baru pulang dari kampus, ada kelas tambahan” ka Ripa menjelaskan alasannya karena dari pagi buta ia sudah tidak ada di apartemen.
“iya sayang, gpp koq” ucap aku sambil melangkah menuju sofa.
“kamu udah minum obat?” Tanya nya.
aku menggeleng sambil menekan remote untuk menyalakan sebuah televise yang terpasang didinding.
“yaudah ya, aku ambilin obatnya dulu.” Ka Ripa langsung mengambil obat dan membawanya kepadaku.
“nih.. sekarang kamu minum obatnya ya sayang, supaya cepet sembuh. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa” ucap ka Ripa, ia duduk disebelahku.
Tiba-tiba airmataku meleleh, entah karena apa, rasanya hati ini sakit, sangat pedih. Oh.. aku pun segera memeluk ka Ripa erat, rasanya aku tidak mau kehilangan sosok sempurna ini.
“sayang.. kamu kenapa? Kenapa kamu nangis? Ada apa?” ka Ripa membalas pelukanku, nambah erat, aku bisa merasakan bahwa ia juga mempunyai perasaan yang sama.
“hiks.. hiks.. hiks..”
“sayang, maafin aku, aku tau aku salah, gak ngabarin kamu sampe selarut ini, handpone aku mati, aku lupa membawa carger nya” ka Ripa terus mengutuki kesalahannya.
“Tapi masalahnya bukan itu” kataku lirih.
“kenapa? Coba cerita sama aku. Apa ada yang nyakitin kamu?”
aku melepasakn pelukannya, memandang wajahnya lekat.
“Sayang, aku gak mau kehilangan kamu” airmataku meleleh lagi.
Ka Ripa langsung memelukku lagi, tak lama ia membisikkan sebuah kata.
“sayang, jangan khawatir ya.. aku gak bakalan pernah ninggalin kamu. Ga akan. I will always you”
Setelah mendengar kata-kata itu semakin jadi saja tangisku yang sedari tadi sudah membasahi baju ka Ripa.
“makasih ya sayang.” aku tersenyum
“iya.. yaudah, sekarang kamu jangan nangis lagi ya.” Dia mengusap airmataku yang tersisa. aku pun tersenyum. Ada sedikit kelegaan disana.
“hm.. manda?”
“apa?” jawabku manja.
“aku punya kejutan buat kamu”
“kejutan?”
“iya.. mau tau?”
“pasti sayang, kejutan apa sih? Tumben, kamu kan baru pulang dari kampus, kapan coba kamu buat kejutannya”
“yeu,, gak percaya? Yaudah..”
“koq yaudah?”
“kamu nya sih, gak yakin kalo aku punya kejutan buat kamu”
“yaudah, apa kejutannya? Cepet kasih tau!”
“okey.. sekarang kamu pejamin mata kamu”
“ga macem-macem kan kamu yang?”
“gak honey. Tenang…” dia mengusap rambutku
Setelah beberapa menit.
“yaudah. Sekarng buka mata kamu”
“okeey.. “ ucapku
“taraaa…”
Ternyata  dua buah tiket pesawat untuk ke Indonesia.
“sayang?” aku menoleh kepadanya, sedikit tidak percaya.
“iya.. Aku mau anterin kamu ke Indonesia.”
“serius?”
“iya.. mana tega aku ngebiarin pacarku ini pulang sendirian.”
“ah.. kamu.. terus kuliah kamu?”
“aku udah ijin satu minggu sayang, sekalian aku juga mau rayain ultah mamah, entar bareng kamu ya? Mau kan?”
“pasti sayang..” aku tersenyum.
 “yaudah.. sekarang kamu istirhat ya. Besokkan kita bakal melalui perjalanan yang sangat panjang”
“udah berapa lama kamu gak pulang ke indo?” Tanya gue menyindirnya
“hm.. 3 tahun say.”
“oh…” aku sedikit melongo. aku pikir dia sering pulang ke indo buat ketemu sama nyokapnya, ternyata gak sama sekali. Pantesan setiap mau tidur minta dinyanyiin, pasti dia kangen banget sama nyokapnya itu, hmm.. berarti dia wajar kalo gitu. Aduh sayang.. kamu bener-bener pria idaman. aku tersenyum.
“dih.. kenpa senyum snediri gitu?”
aku menggeleng manja
“yaudah sekarang kamu tidur ya..”
 “tidur yang nyenyak ya sayang”
“iya.. kamu juga ya.”
Ka Ripa membetulkan selimut untukku.
“I love you” ucap ka Ripa.
“I Love you to.”

XXXXX

aku terbangunkan oleh alaram adzan di smartphone yang udah aku atur. aku segera menuju kamar mandi dan mengambil wudhu, lalu segera menunaikan shalat subuh.
Setelah itu aku keluar kamar, dan saat aku lihat pintu kamar Ripa sudah tebuka, aku pun masuk, ternyata ka Ripa masih tertidur pulas dikasurnya.
“sayang.. bangun” bisikku ditelinganya.
“gak mau bangun” ucap ka Ripa yang masih memejamkan matanya pura-pura
“dih.. koq? Udah siang tau”
“hehe…”
Ka ripa pun beranjak dari tempat  tidurnya, sedikit mengucek matanya yang sipit itu
“selamat pagi honey”
“iya. Selamat pagi juga sayang.. oyaa.. kamar kamu ga dikunci?”
“iya kah? Oh may god, aku lupa ngunci semalem. Abisnya cape banget”
“oh gitu yaudah,, aku packing dulu ya. Kamu cepet mandi, shalat terus packing juga”
“iya sayang pasti!”
Aku pun keluar dari kamar ka Ripa.

“kalian udah siap?” tanya tante Bisky
“iya tante..” aku tersenyum
“salam rindu ya Ripa sama mamah kamu”
“iya tante..”
“kamu ijin berapa hari Paa?” Tanya om Leorio
“satu minggu. Seklaian mau rayain ultah mamah”
“oke kalo gitu. Salam juga sama papah kamu.”
“iya om.. “
“yaudah kita berangkat sekarang yaa” kata tante Bisky.
Mobil kami pun segera melaju menuju Bandara.

XXXXX
Bersambung...
#30DWC Hari ke 22


Sabtu, 05 Maret 2016

My Promise

“Kok bisa hobi nulis?... “
tiba-tiba pertanyaan itu dilontarkan oleh mentor saya. saya tersenyum dan kembali mengingat ingat kenapa saya jadi hobi nulis seperti ini.

“Berawal dari masa smp, karena saat itu saya menjadi ketua osis, banyak yang berpandangan bahwa saya adalah typical orang yang berani, bijaksana dan tegas. Padahal, jujur.. saya typical orang yang penakut dan pendiam. Penakut disini, untuk berbicara saja saya harus memikirkan baik atau buruknya kata yang akan saya lontarkan. Memang, disekolah saya bisa mengatasi semua permasalahan siswa, tapi sejujurnya saya takut untuk menentukan jalan hidup saya sendiri yang entah tidak tahu kemana ujungnya akan berlabuh. Pendiam? Ya.. dirumah saya selalu menutup diri, maksudnya saya samasekali tidak akan bercerita tentang masalah saya, karena saya tahu, pasti mereka juga punya masalahnya masing-masing, saya tidak mau membuat fikiran mereka nambah ruwet dengan masalah saya ini. dan karena itulah saya mencurahkan semua masalah, semua ketakutan dan keresahan kepada buku diary saya. sebenernya saya udah mulai nulis diary sejak kelas empat sekolah dasar, namun saya mulai rutin menulis diary sejak mask smp, setiap menjelang tahun saya pasti membeli diary baru. Dan hampir keseluruhan saya sering menulis saat menjelang tidur. Dengan menulis hati saya merasa lega, rasanya masalah itu hilang dan dapat teratasi dengan sendirinya.

Saat masa smp itulah saya dipertemukan oleh sosok guru bahasa indonesia yang hebat, beliau lah yang membangun motivasi saya untuk berani terjun ke dunia tulis yang sesungguhnya, saya dibekali ilmu ilmu yang bermanfaat, di ikutsertakan dalam beberapa perlombaan nulis karena beliau yakin bahwa saya mempunyai bakat, untuk itu beliau mengarahkan saya  kearah yang sebenarnya saya inginkan juga. Saya mulai fokus menulis. Setiap hari saya mencoba mencicil kisah yang rencanaya akan saya buat novel pribadi, novel ini membutuhkan waktu sekitar 5 bulan. Setelah selesai, tadinya saya mau mengirimnya ke penerbit, namun saya tidak yakin, saya ragu akan tulisan saya sendiri hingga sekarang saya hanya bisa mempostingnya di blog pribadi saya. beginilah... saat hendak mencoba hal baru saya selalu membatasi diri dengan alasan “tapi” saya tau dan sadar bahwa hal ini tidak baik, tapi apa daya? Saya sendiri belum sepenuhnya mampu percaya diri dengan tulisan ini. oh..

Namun ternyata Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menetahui arti dari nulis yang sesungguhnya, saya mengikuti program #30DWC ini, disini saya benar-benar ditabrakan oleh masalah-masalah yang dulu menghambat jalan saya, beserta solusi yang menjawab semua tanda tanya besar dihati saya. disini juga saya mengenal banyak orang-orang hebat serta saya diberi kesempatan untuk tahu bagaimana cara mengirim tulisan ke penerbit. Dan dari situlah saya meyakinkan diri, bahwa saya pasti bisa, tulisan saya pasti layak untuk diterbitkan, saya akan berusaha lebih kuat dari apa yang saya punya! I Promise...” ucap saya  dengan penuh percaya diri.

Mentor saya tersenyum melihat ambisi saya seperti ini. ia berkata “ usaha yang besar akan menuai hasil yang banyak” Lagi lagi saya  tersenyum untuk kesekian kalinya saat mentorku melontarkan kata kata hebat nan bijak, saya hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mewujudkan semuanya.

Sekian !

#30 DWC hari ke 21

Jumat, 04 Maret 2016

Long Distance Relationship part 1


             Siang ini bener-bener bikin aku gerah, males banget rasanya buat balik ke kelas, apalagi pelajaran yang bikin aku ngebetein. Sial.. gurunya kayak males gitu ngajarnya, gimana siswa mau pahamnya coba? Ocehannya pasti tentang politik kehidupannya, emang sih dia guru Pkn, tapi kan? Seharusnya dia ngejelasin materi sesuai yang ada dibuku, bukan setiap pertemuan dia ngebahas tentang siklus kehidupannya, emang penting buat aku tahu tentang anaknya yang dapet beasiswa kuliah di Tokyo? Hah? Makanya aku males banget. Mending aku pergi ke perpus, baca buku tentang materi itu, bukan kaya orang dongo yang cuma mengangguk angguk gak jelas dengerin ocehan guru aneh itu. Ups.. gini nih kalo lagi emosi. Maklum lagi labil.

Dikantin aku ditemani juice alvocado yang berhasil membuat hausku hilang. Setelah itu aku putuskan untuk ke perpustakaan. Disana aku langsung menuju kubikel yang berisi tumpukan buku Pkn, segera aku mengambil satu buku dan lekas membacanya. aku langsung buka halaman sejarah, setelah lama membaca aku cuma manggut-manggut, ternyata sejarah berhasil bikin mood aku berubah, aku ngerasa balik ke zaman dulu lagi, ah... aku baru sadar sejarah emang perfect, tanpa sejarah kita gak bakal ada di zaman sekarang. That right!
Dret Dret.. ada bbm masuk dari Naila sahabatku.

Naila_Sihab
“manda, kamu masih dimana sih? Bu Okta nanyain tau, Katanya ke toilet? koq gak balik-balik?”

Manda_Anggra
“diperpus! Males balik ke kelas, percuma! Gak bakal bikin aku pinter.”

Naila_Sihab
“Kamu tuh ya kebiasaan.. Terus aku harus bilang apa ke bu Okta?”

Manda_Anggra
“Bilang aja seperti biasa”

Setelah membalasa bbm dari Naila, aku langsung naro tuh bb di meja, dan melanjutkan membaca.
aku terus terhanyut dalam sebuah sejarah yang bener-bener bikin aku takjub, betapa hebatnya para pahlawan yang berhasil mengusir penjajah bersenjata yang hanya berbekal bambu runcing. Alat sederhana. Malah Sangat sederhana.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba ada seorang laki-laki bertubuh tinggi menghampiriku.
“serius banget bacanya” kata dia sok kenal duduk disampingku.
aku gak menghiraukan lelaki itu, aku terus baca sejarah dari halaman ke halaman, disana aku banyak dapet pelajaran, duh.. beruntung aku hidup dizaman sekarang. Ucapku menggernyitkan alis.
“kamu suka sejarah ya?” tanya lelaki itu lagi.
aku tetep serius, aku  anggap dia itu angin lalu lagian males banget ngeladenin lelaki kaya gitu, udah tau orang lagi baca, nanya mulu, ganggu aja.
“maaf...” sebelum lelaki itu melanjutkan ucapannya, emosiku udah naik.
“mau kamu apa sih? Jangan ganggu orang deh! Udah tahu aku lagi baca.” Bentakku
“maaf kalo aku ganggu, sebenernya aku cuma mau bilang perpusnya mau tutup” ucap dia dengan nada hati-hati.
Serontak aku langsung liat jam tangan, “oh my god, udah jam pulang” pekikku, aku langsung ngacir tanpa ngembaliin buku sejarah tadi kekubikel semula.
“hei.. tunggu” teriak lelaki itu. aku nggak peduli, aku langsung menuju kelas untuk ngambil tas.
“sial,, kenapa aku gak denger suara bel sih..” aku mendumel
Sesampainya dikelas aku langsung ngambil tas, kelas udah lumayan sepi, cuma ada beberapa orang yang lagi piket.
“nekat banget sih kamu Manda..” ucap Naila mendekatiku.
“haha.. iya dong!” aku terbahak.
Naila Cuma geleng-geleng.
“oya.. aku bisa tebak pasti bu Okta tadi ngebahas anaknya yang di tokyo itu kan?” tanya aku arogan.
“iya, hmm.. oya kamu mau tau ga nama panjangannya apa?” goda Naila
“ga ah.. gak penting banget. tau nama dia aja aku ga mau” aku mendengus
“bener nih.. padahal nama panjangnya itu sama kaya nama tokoh kartun jepang.. hunter x hunter itu loh?” Naila terus menggodaku.
“whatever” jawabku acuh.
“yaudah.. kalo nggak mau. Oya.. tapi kalo difikir-fikir anak bu Okta amazing tau. Bisa dibilang perfect gitu!” takjub Naila.
“perfect? Ah,, anak manja aja kamu bilang perfect!” aku mencibir
“tapi itu wajar Manda.. dia kan anak bungsu”
“tapi gak seharusnya dia selalu minta dinyanyiin sebelum tidurkan?” aku mendelik.
“males debat ah.. pasti ujungnya aku bakal kalah“ Naila nyerah
karena pasti setiap dia debat sama aku tentang apa aja, dia pasti kalah dengan beribu ribu alesan logis aku. Haha aku ketawa jahat.
“yaudah bagus.. yuk pulang” ajakku nyengir.
“oke....” Naila mengekor.
Namun sebelum mereka melangkahkan kaki terdengar suara ponsel Naila.

Manda_Anggra
“Maaf.. ini Naila temannya Manda bukan?”

Serontak Naila kaget.
“Manda,bbm dari kamu.. koq?” tanya Naila heran sambil menyodorkan bb nya.
“maksudnya?” tanyaku, aku segera ngambil bb naila.
“nih.. liat ini bbm dari kamu kan? Manda_Anggra.”
“lho..’’ manda kaget ia segera nyari bb nya, diperiksanya saku dan tas, namun bb itu gak ada..
“Nai,, bb aku gak ada. Aduuhh” aku memelas
“maksudnya bb kamu ilang? koq bisa?” tanya Naila heran
“iya Nai.. aduh tadikan masih ada, waktu kamu bbm aku itu”
“tunggu tunggu.. terus yang ngetik bbm barusan siapa?” tanya Naila semakin heran.
Manda menggeleng cemas.
“coba tanya Nai.. dia siapa? Koq pake bb aku? Apa dia yang nemuin bb aku? Atau jangan-jangan dia yang sengaja nyuri bb aku.. hiks hiks” wajah Manda mulai memerah.
“hust! kamu jangan souzon dulu napa... bentar aku tanya dulu” dengus Naila.

Naila_Sihab
“iya.. Maaf kamu siapa? Kenapa kamu pakai BB teman saya Manda?”

Tidak menghitung menit dan hanya membutuhkan beberapa detik saja balesan bbm Naila udah dijawab.

Manda_Anggra
“aku Taufan.. maaf tadi aku nggak sengaja nemuin bb ini dibawah buku sejarah diperpus. Aku sempat memanggil teman kamu, tapi dia keburu pergi”

“dia Taufan.. nemuin BB kamu dibawah buku sejarah diperpus.” Kata Naila.
“hah? Perpus? Dibawah buku sejarah?”  Oh may god.. Bb aku  ketinggalan disana pas tadi aku lagi baca buku sejarah diperpus Nai.. coba tanya lagi deh dia sekarang dimana gitu?” pintaku.
“iya.. bentar ya!” Naila langsung memijat keypadnya.
“semoga dia orang baik.. dan masih siswa sekolah ini juga” desahku.

Naila_Sihab
“kamu masih siswa disekolah inikan? sekarang kamu dimana?”

Manda_Anggra
“iya.. aku sekarang ditaman sekolah. Sekarang kamu lagi sama Manda nggak?”

“Manda.. dia masih siswa disekolah ini, katanya dia ada di taman sekolah” kata Naila.
Huh... aku mengehla nafas lega, sedikit ada harapan buat bbku balik.
“bener lu Nai? Yaudah yukk kita kesana!” aku  langsung tarik Naila dan lari menuju taman.
“iya iya... bentar aku  bales bbm nya dulu kali...” sambil berlari terpaksa Naila membalas bbm tadi.

Naila_Sihab
“ iya.. sekarang aku akan kesana bersama Manda. Tunggu ya.. dan makasih sebelumnya”

Manda_Anggra
“iya.. sama sama”

Setelah sampai disana, terlihat seorang lelaki yang duduk dibawah pohon  menghadap ke Utara. Sepertinya ia sedang mendengarkan music karena terlihat ia memasang handset ditelinganya.
“Permisi...” ucapku.
Saat aku lihat wajahnya ternyata dia lelaki tadi yang udah aku bentak diperpus. “oh tidak... mau ditaro dimana mukaku?” aku  menepuk kening.
“hei.. duduk Manda” ucap dia pelan sambil melepas handsetnya.
“dih sok deket banget sih?” aku menggerutu
aku  sama Naila langsung ngambil posisi duduk, aku  disebelah lelaki itu dan Naila disebelahku.
Lelaki itu menyodorkan sebuah ponsel berwarna pink.
“ini bb kamu..” kata dia dengan sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.
aku  segera ngambil tuh ponsel.
“hm... makasih ya sebelumnya” kataku pelan sambil mengangguk sopan.
“iya sama-sama. Lain kali hati-hati ya...” kata dia ramah.
“eee...ee iii... yaa” kataku ragu. karena kata hati-hati? Ah.. insyaallah deh aku  sendiri gak bisa jamin apa bisa aku lebih hati-hati kedepannya. Ya.. bisa dibilang  aku  tledor dan semacamnya. Ups!
“Manda.. tanya namanya siapa gitu?” ucap Naila sambil menyiku lenganku.
“kan tadi namanya taufan Naila...” aku mendengus
Dan aku cuma senyum-senyum ga jelas kalo lelaki itu menoleh ke arahku
“ups.. aku lupa. Hihi.. ciye kamu ngingetin.. wkwk” canda Naila
“apa-an sih Nai..” aku menyenggolnya.
lelaki itu Sekali-kali menoleh kearahku dan tersenyum, tak ada kegugupan disana. Dia sangat tenang dibanding aku  yang terlihat sedikit kikuk.
“oya mmm... kamu Taufan ya? Kelas berapa?” tanyaku
“iya... XI IPA 2.” Jawab dia sambil terus senyum. Waw... aku akui senyumannya manis banget.
“kamu?” tanya dia balik.
“XI IPA 1. oya soal tadi diperpus aku minta maaf ya... itu spontan! Suer..”
“gapapa koq. lagian aku yang salah udah ganggu kamu baca. Maaf juga ya.”
“mmm.. i..ya gapapa..” aku  sedikit gugup.
“Sekali lagi aku makasih banget ya, berkat kamu bb aku gak jadi ilang deh..”
“iya.. kamu anak IPA 1? Koq aku baru liat?”
“ah... ledek kamu. Hehe.. aku jarang keluar. Dikelas mulu”
“oh gitu.salam kenal aja ya Manda..” kata dia yang lagi-lagi senyum ke aku.
“oke.. salam kenal juga. Aku duluan ya Fan? Dah....” aku pamit
“iya hati-hati ya” kata Taufan melambaikan tangan

XXXXX

Esoknya saat jam istirahat seperti biasa aku e langsung ke perpus. Menuju kubikel buku favoritku. Tempat ini berhasil mengrefresh otakku kalo lagi mumet karena dikubikel ini nggak banyak orang yang berhilir mudik maka dari itu  aku  merasa nyaman berada disini.
aku  langsung mengambil buku lalu membacanya dan setiap jalinan kisah yang aku  baca disetiap buku berhasil membuat aku  terhanyut bersama peran utama tersebut. Membaca memang indah karena semua orang tau, membaca merupakan jendela dunia.
Tak lama seorang lelaki duduk di sebelahku.
Karena merasa risih aku  terpaksa menunda bacanya dan langsung menoleh kepada lelaki itu.
“Taufan?” kataku  agak terkejut.
“hai Manda.. aku ganggu kamu lagi ya?” tanya Taufan.
“nggak koq.. santai aja” aku kembali membaca.
“keliatannya kamu suka baca banget ya?” tanya Taufan.
“iya.. kamu juga suka baca?” tanya Manda balik.
“enggak..” jawab lelaki itu. aku langsung spontan menolehnya.
“lho.. terus kenapa kamu kesini?” tanyaku heran.
“tadi gak sengaja liat kamu masuk perpus. Makanya aku ngikutin”
“ah.. jail kamu! Kaya hantu aja ngikutin aku..”
“hehe.. oya Manda.. aku boleh ga jadi temen kamu?” tanya Taufan sambil menyodorkan tangannya. aku melirik tangannya dan tersenyum.
“boleh” jawab aku gugup dan menjabat tangannya.
“makasih ya...”
“iya Taufan jelek” candaku
“dih.. kamu tuh dasar pesek” Taufan gak kalah siap. Ia juga malah terus meledekku. Dari situlah aku dan Taufan akrab. Ditambah lagi Taufan minta no ponsel, e-mail, akun facebook, akun tweeter, ID wechat, dan pin bb. Alhasil setiap hari aku sering chat sama dia via apapun.

XXXXX

Hari ini hari libur.. sengaja aku  bangun lebih awal karna ada jadwal lari pagi disetiap weekend. Ditemani music brunomars aku  lari-lari kecil keliling komplek.
Tiba- tiba ada bbm dari Taufan.

Taufaan™
Pagi Manda.. udah bangun belum?

aku  senyum. Gak lama aku  langsung bales tuh bbm.

Manda_Anggra
Udah dong.. aku lagi jogging nih. Kamu baru bangun ya? Dasar :P

Taufaan™
Enak aja.. aku juga lagi jogging nih.. aku kesitu ya? Kita jogging bareng! Tunggu aku Pesek..

Manda_Anggra
Iya jelek.. aku tunggu ditempat biasa ya! :)

Gak lama juga Taufan datang. Kita langsung jogging bareng. Selama perjalanan kita selalu becanda. Dan kita memutuskan untuk istirahat dipinggir danau. Kita duduk di kursi panjang dibawah pohon.
“duh cape banget Fan..” aku mendesah
 “nih minum dulu..” taufan menyodorkan air mineral
“makasih ya..” aku  langsung minum.
Tak lama tiba-tiba Taufan memegang tanganku pelan. aku  langsung menoleh, Taufan melihat wajahku serius. Aku cuma bisa diem dan kembali menatapnya. Karena terikut suasana aku  langsung menyender dibahunya yang kokoh, dia mengelus rambutku, tak ada percakapan disana. Entah aku sendiri juga enggak tau apa yang aku dan Taufan rasain sekarang. Yang jelas Taufan itu selalu ngasih perhatian lebih ke aku. Dan aku  juga begitu, kita sering hang out berdua. Curhat juga, pokoknya kita akrab banget, tapi kita sendiri juga nggak tau sebenarnya hubungan kita itu apa?

XXXXX

Pagi ini pelajaran bahasa Jepang. Ada pengumuman dari sensei Vera. Katanya bakal ada pertukaran pelajar ke Jepang. “what? Jepang? Negri impianku..”
Tapi cuma satu orang yang akan mewakili dari Provinsi Banten. Maka dari itu saingan cukup ketat. Namun semua itu nggak sedikitpun bikin aku down. Malah nambah semangat. aku terpilih menjadi siswa yang mewakili sekolahku. Berbagai seleksi udah aku lewati.. cukup berat memang, namun semua dukungan dari keluarga, sahabat, guru dan Taufan entah sebutan apa buat Taufan bagiku, mereka semua adalah sumber semangat bagiku , tanpa mereka, aku nggak tau deh bisa apa nggak ngelewatin beberapa seleksi yang lumayan menguras tenaga dan pikiran itu.
Dan seminggu lagi akan ada pengumuman dari Jakarta Foundation. aku cuma bisa berdoa supaya aku bisa terpilih menjadi siswa yang beruntung buat pertukaran pelajar nanti.
“Ya Allah aku mohon. Izinkan aku untuk pergi ke negri impian aku, ke Jepang. untuk pertukaran pelajar. Aku mohon ya Allah. Amiin :) ”
aku memanjatkan doa khusuk.

XXXXX

Saat bel pulang tiba, semua siswa langsung berhamburan keluar kelas, aku dan Naila juga begitu. Namun, saat aku jalan dikoridor kelas, dari kejauhan terlihat Taufan melambaikan tangan dan tersenyum. Akupun  membalas senyumannya. Dia langsung menghampiriku
“Hai Manda..” sapa Taufan.
“Hai..” aku tersenyum
“pulang bareng yuk..” ajak Taufan.
aku langsung menoleh ke Naila. Naila cuma tersenyum mengerti.
“yaudah aku duluan  ya Manda, Taufan” kata Naila.
“kamu gapapa Nai?” tanyaku
“iya Nai.. bareng kita aja. Gpp koq” kata Taufan
“udah.. gapapa kali. aku ngerti koq. hehe”
“ah... Naila apa’an sih?”
“hehe.. yaudah deh.. kalian hati-hati ya... daahh” Naila melambaikan tangan dan lekas pergi.
“ehem..” Taufan mendehem
“kenapa Fan? Sakit?” tanyaku cemas. Aku juga nggak  tau, kenapa sebegitu khawatirnya aku sama dia, padahal.. ah
“gapapa koq pesek” Taufan mengusap kepalaku
Aku menghela nafas lega.
“yaudah yuk pulang..” ajak Taufan, ia memegang lenganku erat.
Saat sampai parkiran Taufan langsung membuka pintu mobilnya buatku.
“silahkan nona pesek” candanya.
aku Cuma bisa tersenyum ngeliat perhatiannya.
Kita langsung menuju arah pulang.
“Manda?” panggil Taufan.
“apa?”
“entar malem ada acara ga?” tanya dia
“hmm.. malem? Kayaknya gak ada deh.. kenapa Fan?”
“kita jalan ya..” ajak dia
“kemana?” tanyaku
“ada deh.. pokoknya entar jam 7 aku jemput ya”
aku  cuma mengangguk sambil tersenyum. Lagi-lagi Taufan mengusap kepalaku manja.

XXXXX

Setelah selesai shalat magrib, aku  langsung sibuk milih baju yang cocok buat malem ini.
“aduh.. aku  pake baju apa ya?” aku  kebingungan.
aku  terus memilah-milih baju yang bener-bener cocok.
Setelah lama, akhirnya aku menemukan baju itu, dress birumuda selutut. aku langsung memakainya.
Waktu udah menunjukan pukul 18.40. aku  langsung make up dan untuk malem ini aku  sengaja membiarkan rambut aku  terurai dengan sedikit acessoris pemanis disebelah poni.
“kira-kira Taufan mau ajak jalan kemana ya?” tanyaku dalam hati. tiba-tiba lamunanku buyar mendengar suara ponsel, ada bbm masuk.

Taufaan™
Malem manda..
Aku udah ada didepan rumah kamu nih.. :)

Manda_Anggra
Iya.. tunggu bentar ya Fan :)

aku langsung kekamar mamah buat pamitan sekaligus minta izin.
“Mah..” aku mengetuk pintu
“masuk manda” jawab mamah dari dalam.
“eh.. anak mamah cantik banget, mau kemana sayang?”
“hehe.. hm.. Manda mau jalan mah sama Taufan. Boleh kan mah?”
“oh begitu.. ternyata mau ketemu sama pangerannya nih.. ehem” mamah menggodaku
“ah.. mamah.. itu cuma temen koq.. beneran” kataku meyakinkan mamah
“yaudah sana.. kamu hati-hati ya sayang. Jangan malem-malem” ucap mamah sambil mengusap kepalaku
“sip.. makasih ya mah.. muach” aku mencium kening mamah dan berlalu.

“maaf ya Fan, lama” ucapku pelan
Taufan menoleh. Dia menatapku  agak lama, aku heran.
“Fan?“ aku melambai-lambaikan ke pandangan Taufan.
“eh.. gapapa koq” lamunan Taufan buyar
“kamu kenapa Fan? Koq bengong?” tanyaku
“gapapa. kamu cantik banget malam ini” goda taufan
“ah.. bisa aja kamu” aku tersipu malu
“hehhe kamu udah izin sama mamah?” tanya Taufan, ia terlihat sedikit salah tingkah
“udah koq. mamah udah izinin aku” aku menjawabnya santai
“yaudah yuk..” ajak Taufan. Kita langsung cabut
Dijalan, Taufan menyetel lagu Adel_someone like you. aku cuma bisa diem. Soalnya aku bener-bener gugup banget, gak tau deh kenapa. Aduh...
Setelah beberapa menit mobil honda jazz itu melaju, namun tetep tak ada percakapan diantara aku dan Taufan.
“huft.. kenapa diem-dieman gini sih?”
Tanyaku dalam hati.
Akhirnya untuk memecahkan suasana aku angakat bicara duluan.
“emangnya kita mau kemana Fan?”
“kamu mau tau kita mau kemana?” tanya Taufan dengan sedikit nada pelan.
Aku mengangguk. Bukannya jawab, Taufan malah memegang tanganku lembut, aku heran sebenarnya kita mau kemana? Kenapa dia gak mau jawab pertanyaanku? Aneh..
“Fan.. sebenarnya kita mau kemana?” aku mengulangi pertanyaanku dengan sedikit mengendurkan pegangan tangan Taufan. Yang bikin aku nambah heran Tufan Cuma senyum dan malah memegang tanganku kembali, nambah erat. Dengan sedikit kalimat.
“Tunggu sebentar ya.. masih rahasia”
Sialan.. rahasia? Ah,, kata yang bikin aku  penasaran. Lagi-lagi aku cuma bisa ngangguk, mau gimana lagi? Huft..
Setelah beberapa menit perjalanan, ternyata kita berhenti disebuah restoran ternama, ya... restoran ini khusus untuk pengunjung yang sedang dilanda asamara, terlihat dari dekorasi yang bertemakan cinta.
“fan?” aku menoleh kearah Taufan saat mengetahui Tuafan mengajakku kesini.
“ini tempatnya Manda.. kamu suka kan?” tanya Taufan.
aku mengangguk, kita langsung masuk.
“koq kamu ngajak aku ketempat ini?” tanyaku. setelah selelsai memesan makanan dari seorang waiters
“emang kenapa kalo aku ajak kamu kesini?” tanya Taufan dengan raut wajah yang tenang.
“gapapa sih.. tapi kan kita belum...” sebelum aku meneruskan ucapanku, waiters udah datang bawa pesanan makanan.
“yaudah.. kita makan dulu ya Manda...” kata Taufan.
“iya..” ucapku.
“ah.. padahalkan baru aja aku mau nanya tentang kejelasan hubungan ini. hm..mungkin belum waktunya.” aku mendumel kesal
“koq makanannya gak diabisin? Kenapa?” tanya Taufan.
“udah kenyang Fan..”
“dih,, koq  gitu sih? Baru juga makan udah kenyang,, kan masih banyak makanannya” kata Taufan sambil melahap makanannya yang hampir habis
“yaudah, karena masih banyak kamu ya yang abisin makanan aku” kataku
“hah? Koq aku?”
“biarin..mau ya?”
“hm.. asal suapin ya sama kamu pesek” ucap Tuafan manja
“dih.. manja banget” ledek aku
“biarin .. “
“yaudah nih.,,  aa....aaa...mmmm” aku menyuapi Taufan.
“busyet banyak banget” kata Taufan sambil terus berusaha melahap spaghetti yang menghabisi ruang mulutnya.
“hhe.. biarin,, kan aku suapin“
“manda tega nih”
“hhee.. taufan taufan lucu banget sih kamu”
“yakin cuma lucu?” tanya dia
“emang harusnya apa?” aku heran sambil terus menyuapinya
“ganteng juga kan?”
“dih.. dasar jelek”

XXXXX

Satu minggu kemudian ....
Akhir akhir ini aku  sibuk, banyak pelatihan dari sensei karena aku  masuk 10 besar. Itu artinya aku  masuk sebagai siswa yang berhasil mewaikili provinsi Banten tercinta ini. Untuk seleksi selanjutnya, berbagai persiapan aku  matangkan bersama sensei. Sehingga membuat aku  jarang bertemu Taufan disekolah, jarang bbm an juga. Sengaja aku  gak ngasih tau dia tentang ini.
Dan suatu hari, saat aku  lagi pelatihan diruang bahasa, kebetulan lagi waktu istirahat, aku memutuskan untuk ke kelas Taufan. Kangen banget rasanya udah seminggu gak ketemu dia, tanpa komunikasi juga lagi. Dan aku  juga berniat untuk memberitahu Taufan kalo aku  berhasil masuk 10 besar. Udah gak sabar deh. Pengen cepet tahu gimana sih expresi Taufan kalo dia tau. Hehe.  Dengan langkah ceria aku  menyusuri koridor sekolah. Tepat dikelas XI IPA 2. aku  langsung masuk ke kelas itu dan saat aku ngeliat dipojokan kelas terlihat Taufan sedang duduk bersama dengan seorang perempuan, sambil pegangan tangan, bercanda ria. Sepertinya mereka terlihat bahagia. aku  hanya bisa mematung disana, dengan mata yang  berkaca-kaca dan lidah terasa kaku. aku  langsung berlari menuju taman sekolah dimana tempat pertama aku mengenal Taufan. Disana aku  nangis tersedusedu mengingat kenyataan tadi bahwa Taufan telah bersama orang lain.
“udah lama aku menunggu kepastian dari kamu Fan,, kenapa kamu malah bersama orang lain? itu pacar kamu? Koq aku baru tau? Secepat ini kah kamu berpaling dari aku?” aku  terus bertanya pada diri aku  sendiri.
Dan saat itu juga akhirnya aku putuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Taufan, udah aku delete memory tentangnya di otakku.

XXXXX

Hari ini pengumuman, ternyata aku berhasil mewakili sekolah ini sekaligus mewakili provinsiku untuk pertukaran pelajar ke Jepang. “terima kasih ya Allah engkau telah mengabulkan doa aku... alhamdulilah” aku  besyukur.
3 hari lagi aku  bakal berangkat. Tentunya disana aku bakal membutuhkan pakaian dingin mengingat disana akan menyambut musim dingin.
aku langsung telpon Naila  dan meminta antar berbelanja untuk membeli semua perlengkapan..
“Beruntung banget ya kamu Manda... hebat!” kata Naila takjub
“hmm.. biasa aja koq Nai.. mungkin ini kebetulan” kataku
“ini udah takdir Allah tau Manda.. dari dulu kan kamu mau banget pergi ke Jepang.. dan sekarang akhirnya kesampean juga kan? Selamet ya Manda..” Naila memelukku.
“iya.. makasih ya Naila... “aku balas pelukan Naila.
“kamu disana hati-hati ya.. kalo ada apa-apa langsung hubungi aku”
“iya.. tenang aja”
“oya.. by the way kamu gimana sama Taufan?”
aku menggeleng
“lho... kenapa?” tanya Naila heran.
“gak tau Nai.. dia berubah..”
“berubah? Berubah gimana?”
“dia udah punya pacar Nai..”
“siapa?” tanya Naila tak percaya
“gak tau. Kayaknya anak IPA 2 juga deh.. udahlah biarin. Lagian aku udah  lupain dia sekarang” aku pasrah
“kamu serius Manda?..” tanya Naila
aku cuma bisa ngangguk. Gak kerasa air mataku meleleh. Naila langsung memelukku lagi. Dia mengerti perasaanku.
“sabar ya Manda.. aku yakin ada alasan yang logis yang membuat Taufan kaya gitu.” Bisik Naila sambil ngusap rambutku.
“aku heran deh Nai sama Taufan, dia perhatian sama aku? Dan menurut aku itu kode kalau dia suka sama aku, makanya aku juga respon kode itu, tapi disaat aku menunggu jawaban atas responan yang aku berikan, dia malah pergi bersama orang lain Nai.. rese banget tuh cowo! Dia sama sekali gak ngerti perasaanku, nyesel kenal sama dia. Hiks... hiks”
“aku juga aneh, koq ada ya cowo kaya gitu.. tiba-tiba berubah dan pergi gitu aja, secepat ini lagi.. super duper aneh. Tapi bisa aja cewe itu temennya?” tebak Naila, ia melepaskan pelukannya.
“gak mungkin.. aku liat koq mereka sambil pegangan tangan. Mesra lagi. Apa coba kalo bukan pacaran?” aku mendengus
“mungkin mereka temen deket or hmm.. mereka sahabatan kali .. Percaya deh” aku tau Naila mencoba menghiburku dengan alasan-alasannya tapi aku tetep ga percaya.
“Mana mungkin sih Nai cewe mau digituin sama cowo yang bukan pacarnya” nada bicaraku agak tinggi kali ini.
“hmm.. bisa aja tau. Kan cewe zaman sekarang!. apalagi cowonya se keren Taufan. Mana mungkin mereka nolak.? Iya ga?” Naila terus menebak-nebak hubungan Taufan dengan perempuan itu.
aku cuma bisa menggeleng.
“hiks hiks hiks... besok aku berangkat Nai.. tapi sampe sekarang dia belum massage or kirim bbm ke aku”
“iya iya aku ngerti.. aku yakin suatu saat nanti pasti kamu bakal dapet pengganti dia..”
“makasih ya naila. kamu sahabat aku yang bener-bener ada disaat aku senang, susah dan semuanya, aku sayang kamu nai..”
“hmm.. iya manda,  Jangan sedih lagi ya..”
aku terhanyut dalam pelukan Naila lagi. Sahabat terbaikku.

XXXXX

Malam ini adalah malam terakhir aku tidur dikamar, karena besok pagi jam 10 aku udah harus lepas landas. Rasa senang menggebu hebat di hatiku.  ini merupakan keajaiban bisa pergi ke negri impian. Negri sakura.. tokyo, ah indah.. ingin rasanya segera ada disana. Karena aku bener-bener gak sabar. Buktinya aja hari gini aku udah beres packing.
Setelah itu aku memutuskan untuk ke taman, dengan langkah gontai sambil membawa tablet merah aku menuju taman yang ada dibelakang rumah. Disana aku bersandar di kursi sambil membuka akun facebook. aku langsung update.

Manda Anggraeni
Besok on the way Jepang. Sang negri impian. aku berhasil mewakili negaraku buat pertukaran pelajar. God bless me :)

aku cuma bisa senyum. Lagi lagi aku bener-bener gak nyangka akhirnya aku bisa membuat mimpiku menjadi sebuah kenyataan yang bikin hati aku bener-bener very Happy. Terimakasih Ya Allah :)

Waktu aku liat obrolan ternyata Taufan sedang on line juga. Deg.. hatiku bergetar. Entah apa arti getaran hebat ini? dengan hati-hati aku klik profil dia, aku telusuri kronologinya Ternyata seminggu yang lalu status hubungan  dia berubah menjadi ‘berpacaran’.
Beku... hati ini terasa membeku begitu saja, karena dugaanku bener kalo dia udah pacaran. Ini bener-bener konyol. aku gak abis pikir dia setega ini. akhirnya tangisku meleleh.
“Hiks.. hiks..Taufan...... kamu gak ngerti perasaanku.... kamu pengecut Fan.. kamu tega sama aku.. aku benci kamu. Benci... dan satu lagi aku nyesel banget udah kenal sama kamu..” aku mendengus sambil berteriak, tempat ini memang adalah saksi buta, disinilah aku selalu ungkapin perasaanku. Sedih, senang dan segalanya. aku langsung keluar dari akun facebook.

Kadang.. keyakinan tak sesuai kenyataan
Kadang.. kenyataan tak sesuai harapan
Kadang.. harapan tak sesuai rencana
Kadang.. cinta itu tak selalu bahagia

Kadang... Makan bukan berarti lapar
Kadang.. minum bukan berarti haus
Kadang.. senyum bukan berarti bahagia
kadang.. Perhatian bukan berarti cinta

Kehidupan itu sulit diartikan
Tak semua orang mengerti apa arti hidup yang sebenarnya
Terutama kehidupan dalam sebuah cinta
Karena tak ada arti yang permanen dari kata sebuah cinta
Bisa jadi cinta itu hanya promalitas belaka
Menutupi belangnya zebra yang lari di padang savana
Menghalangi jahatnya niat yang tersembunyi dalam hati

Melebur..
Hancur...
Pergi...
Hilang...
_ _ _

Tiba-tiba terdengar suara dari sebuah band spasi

ku tak percaya kau tinggalkanku membuat hati ini sedih olehmu
semua tentang mu kini telah memberi satu luka dalam hatiku
kini kau pergi tinggalkanku sendiri lagi...

ternyata ada telpon masuk dari Sensei Vera
aku segera mengklik tombol hijau.
“konbanwa Manda-san..” terdengar suara dari sebrang sana
“hai.. konbanwa sensei..” jawabku
“suara kamu kenapa Manda? Abis nangis ya?” Tanya sensei.
“hmm.. nggak koq sensei” jawabku pura-pura.
“oh.. kirain. Apa kamu lagi sakit?”
“nggak juga sensei.. Manda gapapa koq. oya ada apa?”
“sensei cuma mau cek keadaan kamu. Karena mau pastiin kalo kamu bener-bener siap”
“aku udah siap koq sensei. Udah beres packng juga”
“bagus kalo gitu. Akhirnya kamu berhasil ya Manda.. sensei bangga sama kamu”
“iya sensei.. makasih. Ini juga berkat dukungan sensei, tanpa sensei mungkin aku gak bakal nerima semua ini”
“pokoknya nanti disana kamu se aktif mungkin ya.. kalo ada apa-apa hubungi sensei aja”
“iya sensei tenang aja..oya nanti besok Manda langsung ke Bandara aja?”
“kamu ke sekolah dulu Manda.. kita pelepasan disekolah dulu sama bapak kepala, ntar sensei sama bapak kepala langsung yang bakal antar kamu ke Bandara.”
“yang bener sensei? Bapak kepala juga ikut antar aku ke bandara?”
“iya dong.. kan ini bener-bener sejarah buat sekolah kita. Dan kamu yang menorehkan awal sejarah itu.. kita juga bakal doa bersama besok sebelum kamu berangkat”
“aduh.. sensei. Manda seneng banget”
“iya.. makanya baik-baik disana ya. Jangan macem-macem. Pokoknya kamu harus se aktif mungkin. Kamu bisa kan?”
“iya .. mudah-mudahan aja aku bisa”
“yaudah.. sekarang udah malem. Kamu istirahat ya Manda”
“iya sensei.. makasih ya sekali lagi”
 “iya sama-sama” Nut...nut..

XXXXX

“Manda.. kopernya udah kamu masukin ke mobil?” tanya papah
“udah koq pah..” jawabku sambil membetulkan syal dileherku.
“yaudah kita berangkat sekarang..” ucap papah
“kita ke sekolah dulu ya pah..”
“iya sayang..”
“mamah lama banget sih..” ucapku
“iya sayang.. mamah udah siap koq.” kata mamah yang baru muncul dari balik pintu
Mamah dan papah ikut mengantarkanku ke bandara, tapi sebelumnya kami ke sekolah dulu.

Disana, di lapangan utama, setelah selesai upacara, aku dipanggil sensei untuk maju kedepan mimbar. aku pun maju. Semua siswa bersorak ramai. Mereka terus melontarkan semngat untukku.. terdengar teriakan mereka, terutama kelasku, XI IPA 1. “Manda… Manda… Manda… “ aku hanya tersenyum senang, ambisi untuk meraih gelar murtel pun terus memuncak dipikiranku
“secara pribadi, saya ucapkan selamat kepada saudara Manda Anggraeni, berkat kesungguhannya akhirnya ia berhasil terpilih menjadi siswa untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Saya harap atas semua prestasi ini dapat membawa nama baik sekolah kita..” ucap kepala sekolah.
Lagi lagi aku hanya tersenyum. Ini merupakan suatu kebanggan bagi aku, dan pastinya hal ini enggak bakal aku lupain seumur hidup aku. Oh.. thank you god.

Di Bandara..
Beberapa menit lagi aku bener-bener bakal lepas landas meninggalkan tanah air ini, terlihat kepala sekolah yang sedari tadi tersenyum bangga kepadaku, mamah yang selalu mengelus pundakku dengan membisikan segala nasehat baiknya, terlihat papah yang membawakan koper dan semua perlengkapaku disana, sedangkan sensei Vera, ia juga terus memberi arahan-arahan yang bakal berguna saat aku disana. Naila juga sibuk membawakan tas. Aku cuma tersenyum hambar. Hambar? Ah.. dasar. Padahalkan ini impianku, harusnya aku seneng bukan malah tersnyum hambar begini? ya. aku akui. Ini semua karena Taufan. aku bener-bener terpukul kehilangan dia. Huft
aku terus celengak celinguk, berharap dapat menemukan Taufan diantara kerumuyan orang yang sibuk hilir mudik.
Tapi tetap tidak ada. Wajahnya tidak terlihat disana.
Akhirnya ini saatnya aku berpisah dengan orang-orang yang mengantarkanku ke bandara, karena aku akan memasuki area penerbangan, aku pun pamitan dengan meminta doa agar aku selamat dan dapat kembali ke tanah air ini dengan segudang ilmu yang aku dapatkan di negri sakura.

XXXXX

Selamat siang para penumpang, dua menit lagi pesawat ini akan terbang menuju tokyo, Jika terjadi tekanan darurat, masker tabung oksigen akan otomatis jatuh menggantung dihadapan anda, dan jika ada pendaratan darurat kami telah menyediakan pelampung dibawah kursi. Dan untuk keamanan selama perjalanan kami harap semua penumpang dapat mengikuti aturan yang ada.
Ucap pramugari anggun dan tegas.

Diperjalanan, aku terus membaca buku bahasa jepang, karena aku gak mau pertukaran pelajar selama 10 hari ini sia-sia. Karena aku mempunyai target untuk mendapatkan gelar murtel disana.
Setelah lama membaca, mata ini terasa berat dan akhirnya aku putuskan untuk tidur, akupun segera memasang handset.

XXXXX

Bersambung ....
#30 DWC Hari ke 20

Aku bayanganmu di masalalu part II

#30DWC hari ke 19

             Hanif terkejut setelah membaca isi surat itu, ia segera membuangnya. Masuk kamar dan merenung.

Hanif memngingat sesuatu. Saat itu ia ditabrak oleh avanza hitam, sebelum ia pingsan ia melihat seorang remaja lari kesebuah rumah.

"Ingatan apa itu" hanif berteriak. "Aku ngga ngerti, siapa remaja itu? Kenapa dia begitu ketakutan?" Gerutunya

            Esoknya, hanif hendak berangkat sekolah. Karena waktu telah menunjukan pukul 7 dan itu berarti ia akan terlambat jika harus naik angkutan umum, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengendarai sepeda motor. Hanif mengendarai dengan kecepatan tinggi, ia takut gerbang sekolah udah ditutup. Namun ternyata didepannya ada motor hendak menyebrang dan tiba tiba brukk. Hanif kecelakaan. Warga langsung melarikan hanif ke rumah sakit.

            Setelah sadarkan diri ia teringat akan sesuatu. Potret peristiwa yang terekam jelas. Hanif kebingungan. Kenapa aku setega itu? Tanyanya dalam hati.
Ternyata benar, benturan saat kecelakaan itu membuat hanif sembuh dari amnesianya.
Hanif mengingat semuanya. Hanif yang dulu ada seorang mata mata, ia sengaja dibayat oleh suruhannya. Dan ternyata remaja itu ialah sasarannya yang tak lama saat memata matainya ia malah ditabrak sengaja oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hanif membisu, ia menyesali perbuatannya.

             Dua minggu kemudian. Hanif mulai sembuh. Ia sudah bisa masuk sekolah. Setelah jam pulang sekolah, saat hanif hendak masuk ke rumahnya, ada yang menimpuknya dengan kertas dari arah belakang. Ternyata lelaki berjubah hitam itu lagi. Hanif segera mengambil kertas itu dan membacanya. "Aku bukan bayanganmu lagi di masalalu"
Sekian..

Rabu, 02 Maret 2016

Cara Pembuatan Brinket Dari Daun Kering


Jangan buang atau bakar daun yang berjatuhan! Sampah organik itu ternyata bisa
diolah menjadi briket atau bahan bakar padat untuk memasak. dengan demikian,
Anda tak perlu keluar uang atau pusing mencari minyak tanah atau gas.
Briket dari sampah dedaunan
“Jadi buat masyarakat jika banyak sampah daun-daunan sebaiknya jangan dibuang
begitu saja. Jangan juga cuma dibuat pupuk kompos. Ternyata sampah dedaunan
bisa dibuat menjadi briket. Caranya sangat mudah
Cara buat briket sampah :
1. Kumpulkan sampah daun di halaman rumah
2. Sampah dibakar bersama campuran lem kanji dan arang batok kelapa.
3. Lamanya pembakaran tergantung dari volume sampah daun.
4. Campuran sampah daun, lem kanji, dan batok kelapa jangan sampai jadi arang.
5. Hasil pembakaran dicetak ke dalam pipa paralon.
6. Cetakan itu dikeringkan 1-2 hari dan hasilnya siap untuk memasak. Biasanya
banyak digunakan untuk tukang sate.
#30DWC Hari ke 18



Selasa, 01 Maret 2016

You can do it

              Di suatu sekolah, terdapat kelas unggulan yang didalamnya tentu murid-murid yang IQ nya diatas rata-rata. Namun, diantara murid-murid yang lain, ada satu murid perempuan, Tasya. yang membuat semua orang berkerut dahi ketika tau ia adalah salah satu murid dikelas unggulan itu. Bagaimana tidak, setiap murid yang berada dikelas unggulan mempunyai kemampuannya masing-masing, sedangkan Tasya tidak mempunyai kemampuan dibidang apapun. Nilainya serba pas-pas an. Nilai akhirnyapun terendah dari semua murid yang ada dikelas itu. Keadaan seperti itu membuat Tasya dijauhi teman-teman sekelasnya.
Namun, walaupun begitu, Tasya tetap rajin belajar, setiap harinya ia selalu duduk dengan catatannya dikursi belakang.
Terkadang Dinda menemaninya, karena Dinda adalah salah satu teman yang peduli kepada Tasya.

Hingga akhirnya waktu mengantarkan mereka pada Ujian Nasional.
Siang itu sepulang sekolah Ujian Nasional pertama, Tasya duduk tepat dikursinya, terlihat ia sedang membereskan buku-bukunya.
Sedangkan Dinda duduk di kursi belakang, ia terlihat gelisah memperhatikan Tasya dari kejauhan. Tasya menoleh ke arah Dinda dan segera menghampirinya.

“ada apa din? Kamu keliatannya gelisah begitu?” tanya Tasya dan segera mengambil posisi, duduk disamping Dinda.

“engga kenapa-kenapa koq sya. Tadi gimana?” tanya Dinda balik.

“aku gak yakin atas apa yang aku lakukan hari ini, apa itu bisa membuat aku bahagia atau enggak nantinya?” jawab Tasya dengan nada rendah.

“Serahkan semuanya sama Allah Sya, hanya dia yang dapat membantu kita.”

“aku selalu berusaha untuk mengingat Allah dimanapun, dikondisi apapun dan disaat seperti apapun aku berada” ucap Tasya serius.

“eh,, percuma berdoa juga, kalo otak tetep lemot kaya gtu, ih” kata salah satu siswa yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka, sambil berjalan dengan angkuhnya.

“Jangan gtu dong Han, kita semua tuh sama.” Bela Dinda.

“sama? Haha... jelas  bedalah. Aku tuh 3 besar dikelas ini. Sedangkan dia? Terendah dari semua siswa dikelas ini. Iew, gak banget deh!” jawab Hany nambah angkuh.

“aku juga heran Han, kenapa dia masuk kelas unggulan ini?” lanjut teman Hany.
“mungkin salah orang kali. Bodo ah! Gak penting, ngapain juga aku ngurusin dia! Yuk cabut!” tukas Hany. Mereka segera keluar kelas.

“Jangan difikirin ya Sya, mereka semua salah. Kamu gak seperti itu koq “ Dinda menepuk bahu Tasya penuh iba.

“engga apa-apa koq. aku gak peduli dengan pembicaraan orang-orang, baik atau buruknya aku. yang penting aku ngelakuin ini dengan hasil kerja keras aku sendiri.” Jawab Tasya Rendah.

“hm..Ketika kita ingin sekali menggapai sebuah impian, pastinya kita selalu mempunyai niat yang pertama. Kita terus berdoa dan terkadang merelakan waktu hanya untuk impian tersebut.” Ucap Dinda.

“iya..tapi, kita jangan terlalu berharap untuk bisa menggapainya. karena jika impian itu tidak bisa kita gapai. pasti, hati ini akan retak dan sangat kecewa. Kita akan terganggu sekali untuk beribadah kepada Allah, berbicara dengan kedua orangtua, teman, sahabat, ataupun kepada yang lainnya.
Kita harus fokus! Dengan apa yang akan kita lakuakan. Terusalah berkata dalam hati “bahwa aku sudah melakukan yang terbaik. Aku tak peduli hasilnya bagaimana, yang aku fikirkan hanyalah, semoga ini bisa membahagiakan diriku sendiri dan orang lain nantinya! Yaa...kita harus berkata seperti itu, tetap optimis dan tidak boleh pesimis.” Lanjut Tasya percaya diri. Yang membuat Dinda melongo mendengarnya.

“Masa depan itu nomor satu, masuk surga itu impian semua manusia. Hari ini adalah hari yang harus kita syukuri Din, karena kita diberi sebuah kesehatan dari allah, kita gak tau esok hari kita bisa seperti hari ini atau tidak? kita bisa menyapa teman dan sahabat kita lagi atau tidak? kita bisa mengungkapkan perasaan cinta terhadap seseorang atau tidak? Apalagi yang paling utama, kita bisa mencium tangan kedua orang tua kita lagi atau tidak? dan yang terkhir, kita masih bisa membuka mata kita lagi atau tidak? Yaa, kita memang tidak tau apa yang akan terjadi dengan hari esok , yang jelas kita harus selalu bersyukur. gak boleh menyerah dan tetap tawakal dan berdoa kepada Allah.” Lanjut Tasya.
“Ya Allah Sya, aku salut sama kamu. Ternyata dibalik keluguan kamu selama ini? Kamu tetap optimis. Aku bangga punya temen kaya kamu” ucap Dinda haru.
“selama 3 tahun ini, kalian mengajariku untuk optimis. Yahh.. walaupun tidak secara langsung!” Tasya tersenyum.

SELESAI-
#30DWC hari ke 17

AKSI NYATA PMM "RENCANA TINDAK LANJUT DARI HASIL ASESMEN AWAL PEMBELAJARAN"

Berikut rancangan asesmen awal pembelajaran Berikut Nilai peserta didik beserta rencanan tindak lanjut